Tren viral di media sosial mengubah cara orang liburan. Apakah ini kemajuan pariwisata atau degradasi pengalaman?
Ada momen spesifik di mana sebuah pantai yang tadinya sunyi tiba tiba dipadati ratusan orang yang sama saja: mereka semua memegang ponsel, berdiri di spot yang sama, dan membuat pose yang sama. Ini bukan sekadar soal ramai, tapi soal hilangnya makna tempat. Sumber dari validnews.id menyebut ini sebagai tren wisata viral yang meresahkan akibat TikTok.
Di sisi lain, data dari Kemenpar menunjukkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif tetap tumbuh positif pada 2024. Ada paradoks di sini. Angka kunjungan naik, tapi kualitas pengalaman turun. Kita perlu jujur: sebagian besar 'wisata' yang kita lihat di feed sekarang bukan lagi tentang menjelajah, tapi tentang memproduksi konten.
Ilusi Keaslian di Era Filter
BBC mengidentifikasi tujuh tren perjalanan populer sepanjang 2025, dan banyak di antaranya berakar pada estetika visual. Orang tidak lagi pergi ke suatu tempat karena sejarah atau kulinernya, tapi karena tempat itu 'instagenik'. Ini berbahaya. Kita mulai menilai destinasi berdasarkan seberapa baik fotonya, bukan seberapa dalam pengalamannya.
Fenomena 'destination dupe' yang disebut Republika.id adalah contoh nyata. Orang mencari kemiripan visual dengan tempat mahal, bukan kemiripan rasa atau budaya. Ini mengubah perjalanan menjadi permainan kuis visual. Anda tidak lagi bertanya 'apa yang bisa saya pelajari di sini?', tapi 'apakah ini terlihat seperti Bali di foto itu?'. Ini degradasi dari eksplorasi menjadi imitasi.
Masalahnya, algoritma menyukai keseragaman. Video 15 detik yang menunjukkan satu spot tertentu akan viral, sementara 100 spot lain yang lebih indah tapi kurang 'klik' akan terabaikan. Akibatnya, arus pengunjung menjadi sangat terkonsentrasi di titik titik yang sama, menciptakan kerumunan yang justru merusak ketenangan tempat tersebut.

Angka yang Menipu
Kompas.id membahas wisata olahraga sebagai wajah baru pariwisata Indonesia. Ini sebenarnya adalah counter narrative yang sehat. Wisata olahraga menuntut partisipasi fisik dan keterlibatan langsung, bukan sekadar pengamatan pasif. Tapi apakah ini cukup untuk melawan arus konten viral?
Data dari id.techinasia.com menunjukkan pertumbuhan data pariwisata Indonesia, namun angka tersebut sering kali tidak membedakan antara wisatawan yang benar benar berinteraksi dengan lokal dan mereka yang hanya lewat untuk foto. Pertumbuhan kuantitas tidak selalu berarti pertumbuhan kualitas ekonomi kreatif di akar rumput.
Kita terjebak dalam ilusi bahwa lebih banyak pengunjung berarti lebih baik. Padahal, jika semua orang melakukan hal yang sama di tempat yang sama, dampak ekonomi menjadi sempit. Pedagang lokal hanya melayani turis yang datang untuk foto, bukan yang datang untuk membeli kerajinan, mencicipi makanan, atau belajar budaya. Ini adalah ekonomi yang dangkal.

Ketika Konten Mengalahkan Konteks
TikTok mempercepat siklus hidup sebuah destinasi. Sebuah tempat bisa menjadi terkenal dalam semalam dan mati dalam sebulan. Ini menciptakan budaya 'fOMO' yang tidak sehat. Wisatawan merasa harus mengunjungi semua tempat yang sedang trending, tanpa peduli waktu, lokasi, atau bahkan minat pribadi mereka.
Sumber dari validnews.id menyoroti keresahan terhadap tren ini. Mengapa meresahkan? Karena ada risiko ekologis dan sosial. Kerumunan manusia di area sensitif merusak alam. Interaksi yang dangkal dengan masyarakat lokal seringkali terasa seperti invasi, bukan pertukaran budaya. Kita kehilangan nuansa, hanya menyisakan noise.
Bayangkan sebuah desa adat yang biasanya tenang, tiba tiba dipadati orang asing yang hanya ingin merekam tarian tanpa memahami maknanya. Ini bukan lagi wisata, ini adalah pertunjukan satu arah. Masyarakat lokal menjadi objek, bukan subjek. Ini adalah bentuk baru kolonialisme digital.

Menuju Wisata yang Lebih Jujur
Solusinya bukan melarang media sosial. Itu tidak mungkin. Solusinya adalah mengubah pola pikir. Wisatawan perlu lebih selektif. Tanyakan pada diri sendiri: apakah saya pergi ke sini karena saya ingin mengalami sesuatu, atau karena saya ingin terlihat sedang mengalami sesuatu?
Kemenpar perlu mendorong narasi yang lebih dalam. Bukan hanya 'tempat ini bagus', tapi 'budaya ini penting'. Edukasi menjadi kunci. Jika wisatawan memahami konteks, mereka akan menghormati tempat tersebut. Mereka tidak akan berteriak di situs suci, tidak akan menginjak terumbu karang demi foto, dan tidak akan memperlakukan manusia sebagai latar belakang.
Kita punya potensi besar. Indonesia punya kekayaan budaya dan alam yang tak terbatas. Tapi jika kita terus mengejar viralitas, kita akan merusak apa yang ingin kita jual. Masa depan pariwisata Indonesia terletak pada kedalaman, bukan lebar. Pada makna, bukan sekadar piksel.
Pertanyaan umum

Keep subscribing to Doni PrasetyaHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
