Komoditas kelapa parut asal Gorontalo berhasil menembus pasar Eropa, sebuah capaian yang menempatkan produk pertanian daerah tersebut di kancah ekspor internasional. Menurut informasi yang disampaikan, sebanyak 26 ton kelapa parut olahan dengan nilai mencapai 1,2 miliar rupiah diekspor ke Jerman. Keberhasilan menembus pasar Jerman ini menjadi sorotan, karena menunjukkan bahwa produk olahan kelapa dari Gorontalo mampu memenuhi permintaan dan persyaratan pasar di salah satu negara besar di Eropa.
Keberhasilan ekspor ini disebut sejalan dengan visi Asta Cita Presiden. Visi tersebut menekankan upaya mendorong kemandirian bangsa melalui hilirisasi dan industrialisasi. Dengan mengolah kelapa menjadi produk bernilai tambah seperti kelapa parut olahan, dan kemudian mengekspornya, Gorontalo dinilai menjalankan semangat hilirisasi yang dimaksud. Pengolahan komoditas mentah menjadi produk siap ekspor menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai ekonomi dari hasil pertanian daerah, sekaligus memperkuat posisi produk lokal di pasar global.
Ekspor kelapa parut ke Jerman tersebut merupakan bagian dari kegiatan pelepasan ekspor yang lebih luas. Dalam kegiatan itu, total komoditas yang dilepas mencapai 67 ton dengan nilai ekonomi sebesar 1,575 miliar rupiah. Artinya, di luar kelapa parut yang menuju Jerman, terdapat pula komoditas lain yang turut dilepas untuk ekspor. Produk-produk yang dilepas tersebut disebut telah memenuhi standar internasional, sebuah syarat penting agar komoditas dari daerah dapat diterima di pasar luar negeri.
Kinerja ekspor Provinsi Gorontalo secara keseluruhan juga menunjukkan tren yang positif. Berdasarkan data badan karantina, sepanjang Januari hingga Mei 2026, nilai ekspor daerah ini melesat hingga 643,72 miliar rupiah. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 10,76 persen. Pertumbuhan nilai ekspor ini menunjukkan bahwa aktivitas pengiriman komoditas dari Gorontalo ke luar negeri mengalami peningkatan, dan bukan sekadar capaian pada satu jenis produk saja, melainkan tergambar dalam kinerja ekspor daerah secara lebih luas.
Peningkatan juga terlihat dari sisi volume dan frekuensi pengiriman. Dari segi volume, terjadi lonjakan sebesar 21,55 persen menjadi 149,50 juta kilogram. Sementara itu, frekuensi pengiriman tercatat mencapai 477 kali. Lonjakan volume yang cukup besar ini, dipadukan dengan ratusan kali pengiriman, menggambarkan bahwa geliat ekspor di Gorontalo cukup aktif sepanjang paruh pertama tahun ini. Kombinasi antara kenaikan nilai, volume, dan frekuensi pengiriman memperkuat gambaran tren ekspor daerah yang sedang menanjak.
Secara keseluruhan, ekspor kelapa parut ke Uni Eropa dipandang sebagai bukti transformasi ekonomi daerah yang menjadikan produk lokal bernilai tinggi. Dengan menembus pasar Jerman dan didukung oleh tren ekspor provinsi yang menanjak, Gorontalo memperlihatkan bahwa produk pertanian daerah memiliki potensi untuk bersaing di pasar internasional. Capaian ini sekaligus menjadi contoh bagaimana pengolahan dan hilirisasi komoditas lokal dapat membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi daerah-daerah penghasil komoditas pertanian di Indonesia.
