LIVE PROTOCOL
EET--:--:-- edition--.--.--

Harga ayam hidup anjlok di bawah biaya produksi, peternak merugi

Harga ayam hidup anjlok di bawah biaya produksi, peternak merugi

Para peternak ayam di Indonesia semakin tertekan karena harga ayam hidup anjlok jauh di bawah biaya produksi. Ketua Umum Perhimpunan Masyarakat Perunggasan Indonesia atau Permindo, Kusnan, menyebutkan harga ayam hidup dengan bobot di atas 1,6 kg saat ini hanya berkisar Rp15.000 per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi yang mencapai Rp19.500 hingga Rp20.000. Kondisi ini membuat peternak tertekan karena tetap harus membayar kebutuhan pakan dan DOC, sementara penjualan ayam berjalan lambat dan harga terus menurun akibat kelebihan produksi. Permindo telah menyampaikan kondisi tersebut dalam audiensi bersama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Badan Pangan Nasional, dan mendorong pemerintah menyerap produksi ayam yang melimpah untuk dijadikan cadangan protein hewani nasional.

Para peternak ayam di Indonesia kini berada dalam tekanan berat seiring anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak hingga jauh di bawah biaya produksi. Kelebihan produksi ayam hidup yang terjadi saat ini membuat harga di tingkat peternak terpuruk, sehingga langkah intervensi dinilai semakin mendesak untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak dan mencegah kerugian yang semakin besar. Kondisi ini menjadi sorotan karena menyangkut nasib banyak peternak yang menggantungkan hidup pada usaha perunggasan.

Gambaran beratnya situasi disampaikan langsung oleh kalangan peternak. Ketua Umum Perhimpunan Masyarakat Perunggasan Indonesia atau Permindo, Kusnan, menyebutkan bahwa harga ayam hidup dengan bobot di atas 1,6 kilogram saat ini hanya berkisar Rp15.000 per kilogram. Angka tersebut jauh berada di bawah harga pokok produksi yang mencapai Rp19.500 hingga Rp20.000. Selisih yang lebar antara harga jual dan biaya produksi inilah yang membuat peternak merugi setiap kali menjual hasil ternaknya.

Menurut Kusnan, kondisi tersebut membuat peternak semakin tertekan dari sisi keuangan. Sebab, mereka tetap harus membayar berbagai kebutuhan operasional seperti pakan dan DOC atau bibit ayam, sementara penjualan ayam berjalan lambat dan harga terus menurun. Beban biaya yang harus ditanggung tidak berkurang, namun pemasukan dari penjualan justru semakin menipis. Situasi semacam ini jika berlangsung lama dikhawatirkan dapat mengancam kelangsungan usaha para peternak.

Akar dari persoalan ini adalah kelebihan produksi ayam hidup yang membanjiri pasar. Ketika pasokan ayam jauh melampaui penyerapan pasar, harga di tingkat peternak ikut tertekan dan terus merosot. Pasokan yang melimpah tanpa diimbangi penyerapan yang memadai membuat harga sulit kembali ke tingkat yang wajar. Akibatnya, peternak berada dalam posisi yang lemah karena harus menjual dengan harga rendah demi tetap memutar usaha mereka.

Menghadapi kondisi ini, Permindo mengaku telah menyampaikan keluhan dan kondisi yang dihadapi peternak melalui jalur resmi. Persoalan tersebut disampaikan dalam audiensi bersama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Badan Pangan Nasional. Lewat pertemuan itu, kalangan peternak berharap pemerintah dapat memahami beratnya tekanan yang mereka alami dan segera mengambil langkah konkret untuk meredam kerugian yang terus membesar.

Dalam pertemuan tersebut, peternak mendorong pemerintah untuk menyerap produksi ayam yang melimpah agar tidak terus menekan harga di pasar. Salah satu usulan yang mengemuka adalah menjadikan kelebihan produksi ayam itu sebagai cadangan protein hewani nasional. Dengan begitu, surplus ayam yang selama ini menekan harga diharapkan dapat dialihkan menjadi cadangan pangan yang bermanfaat, sekaligus memberi ruang bagi harga di tingkat peternak untuk kembali membaik dan menjaga keberlangsungan usaha perunggasan.

Loading article...