LIVE PROTOCOL
EET--:--:-- edition--.--.--

Harga telur anjlok dan pakan melambung, peternak di Pasuruan terancam gulung tikar

Harga telur anjlok dan pakan melambung, peternak di Pasuruan terancam gulung tikar

Dalam sebulan terakhir harga telur ayam di tingkat peternak terus merosot, sementara harga pakan ayam justru melambung. Kondisi ini membuat para peternak ayam petelur di Pasuruan, Jawa Timur, terancam gulung tikar. Harga telur kini hanya berkisar Rp21.000 hingga Rp23.000 per kilogram, sedangkan harga pakan mencapai Rp415.000 per sak.

Dalam sebulan terakhir, harga telur ayam terus merosot dan menjadi persoalan serius bagi para peternak. Seperti dilaporkan tvOne News, di tengah anjloknya harga jual telur di pasaran, para peternak justru harus dihadapkan dengan melambungnya harga pakan ayam, sehingga banyak di antara mereka kini terancam gulung tikar.

Saat ini, harga telur ayam di tingkat peternak hanya berkisar antara Rp21.000 hingga Rp23.000 per kilogram. Angka tersebut tergolong rendah dan dinilai tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan peternak untuk menjaga produksi telur tetap berjalan, terutama di tengah tekanan biaya pakan yang terus meningkat.

Kondisi tersebut diperparah oleh melambungnya harga pakan ayam yang menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi. Saat ini harga pakan mencapai sekitar Rp415.000 per sak atau setara dengan kurang lebih Rp8.000 per kilogram. Padahal, sebelumnya harga pakan masih berkisar di angka Rp7.000 per kilogram, sehingga kenaikannya cukup memberatkan peternak.

Bagi peternak, lonjakan harga pakan yang terjadi berulang kali dalam waktu singkat menjadi pukulan tersendiri. Di saat harga jual telur sedang turun, harga pakan justru naik beberapa kali dalam kurun waktu sebulan. Ketimpangan antara biaya produksi yang terus naik dan harga jual yang terus turun inilah yang membuat usaha peternakan semakin sulit dipertahankan.

Seorang peternak di Pasuruan menyebut bahwa sejumlah koleganya sudah banyak yang terpaksa gulung tikar. Mereka tidak lagi mampu menutupi biaya operasional kandang yang harus tetap berjalan setiap hari, mulai dari pembelian pakan, perawatan ayam, hingga biaya lain yang menyertai produksi telur, sementara pemasukan dari penjualan telur terus menyusut.

Para peternak kecil mengaku sangat kebingungan menghadapi situasi ini. Di satu sisi harga telur turun, namun di sisi lain harga pakan dalam sebulan terakhir disebut sempat naik hingga beberapa kali. Hal itu membuat para peternak rakyat berskala kecil menjerit karena pemasukan mereka tidak lagi mencukupi untuk menutupi kebutuhan sehari-hari usaha mereka.

Menurut peternak, harga pokok produksi atau HPP yang mereka tanggung kini tidak lagi tertutupi oleh hasil penjualan telur. Tidak seimbangnya antara biaya produksi dan harga jual membuat banyak peternak berada di ambang kerugian. Jika kondisi harga telur yang rendah dan pakan yang mahal ini terus berlanjut, dikhawatirkan semakin banyak peternak kecil yang akhirnya menghentikan usahanya.

Loading article...