Tidak banyak yang mengetahui bahwa salah satu bahan baku parfum, kosmetik, hingga produk perawatan kulit yang sering digunakan masyarakat berasal dari perkebunan di daerah pelosok. Di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, para petani membudidayakan tanaman nilam yang kemudian diolah menjadi minyak atsiri bernilai tinggi. Harga jual minyak ini bahkan dapat mencapai jutaan rupiah per kilogram.
Hamparan tanaman nilam tumbuh subur di sebuah desa di Kabupaten Maros. Tanaman ini menjadi salah satu komoditas unggulan warga karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Bagi petani setempat, nilam bukan sekadar tanaman perkebunan biasa, melainkan sumber penghasilan yang menjanjikan.
Daun nilam yang telah berusia sekitar empat bulan dapat dipanen. Setelah dipetik, daun tersebut dikeringkan selama satu hari sebelum masuk ke tahap penyulingan. Dari proses penyulingan itulah dihasilkan minyak atsiri yang menjadi bahan baku parfum, kosmetik, dan produk perawatan tubuh.
Sejumlah petani tidak hanya menanam, tetapi juga mengolah nilam hingga menjadi produk bernilai jual lebih tinggi. Menurut keterangan di lapangan, dari sekitar 300 kilogram nilam kering, petani bisa menghasilkan kurang lebih 10 kilogram minyak nilam berkualitas tinggi.
Saat ini harga jual minyak nilam berada di kisaran satu juta rupiah per kilogram. Dengan tingkat produksi yang ada, omzet yang dihasilkan disebut dapat menyentuh sekitar 100 juta rupiah per pekan. Angka tersebut bahkan pernah meningkat lebih dari dua kali lipat ketika harga minyak nilam menembus dua juta tiga ratus ribu rupiah per kilogram pada 2025.
Tingginya nilai jual membuat budidaya nilam menjadi peluang ekonomi yang terus ditekuni warga. Mulai dari penanaman, pemanenan, hingga penyulingan, seluruh rangkaian proses dikerjakan untuk menghasilkan minyak atsiri yang permintaannya berkaitan erat dengan industri parfum dan kosmetik. Bagi masyarakat di pelosok Maros, tanaman ini membuka jalan menuju penghidupan yang lebih baik.
