LIVE PROTOCOL
EET--:--:-- edition--.--.--

Rupiah melemah pukul sentra kerajinan tembaga Cepogo, orderan perajin turun hingga 70 persen

Rupiah melemah pukul sentra kerajinan tembaga Cepogo, orderan perajin turun hingga 70 persen

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memukul sentra kerajinan tembaga di Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah. Harga bahan baku tembaga naik hampir 50 persen, membuat sejumlah pembeli dari luar negeri membatalkan dan menunda pesanan. Akibatnya, perajin mengaku orderan turun hingga 70 persen, dan menyiasatinya dengan menyesuaikan ketebalan bahan tanpa mengurangi kualitas.

Melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mulai memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha kecil di daerah. Salah satunya dirasakan oleh sentra kerajinan tembaga di Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah. Kenaikan harga bahan baku yang tajam membuat banyak pembeli dari luar negeri membatalkan pesanan, sehingga jumlah orderan yang diterima para perajin turun drastis.

Para perajin tembaga di sentra industri kerajinan Cepogo kini tidak seramai biasanya. Aktivitas produksi yang biasanya berjalan padat kini melambat, seiring dengan tekanan biaya yang mereka hadapi. Kondisi ini berbeda dengan situasi sebelumnya, ketika permintaan dan pesanan masih mengalir dalam jumlah yang lebih stabil.

Pemicu utama dari kondisi ini adalah melambungnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, yang membuat harga bahan baku tembaga naik secara drastis. Kenaikan harga bahan baku itu disebut mencapai hampir 50 persen. Lonjakan tersebut berdampak langsung pada biaya produksi yang harus ditanggung para perajin untuk setiap barang yang mereka buat.

Tingginya biaya produksi pada akhirnya berimbas pada sisi permintaan. Sejumlah pembeli dari luar negeri memilih untuk membatalkan pesanan dan juga menunda pembelian hingga harga tembaga kembali stabil. Para pembeli menyatakan akan kembali memesan jika harga sudah normal, sehingga pesanan tidak hilang sepenuhnya, melainkan tertunda untuk sementara waktu.

Dampak dari pembatalan dan penundaan pesanan itu cukup terasa bagi para perajin. Mereka mengaku jumlah orderan yang masuk turun hingga 70 persen dibandingkan kondisi biasanya. Penurunan permintaan sebesar itu menjadi pukulan tersendiri bagi keberlangsungan usaha di sentra kerajinan yang selama ini menggantungkan sebagian penjualannya pada pasar luar negeri.

Untuk bertahan di tengah kenaikan biaya, para perajin menempuh sejumlah penyesuaian. Salah satunya dengan menyesuaikan ketebalan bahan tanpa mengurangi kualitas produk. Bahan yang biasanya menggunakan ketebalan 7 kini diganti dengan ketebalan 5 atau 6. Penyesuaian ini dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan konsumen, agar harga produk tetap terjangkau meski biaya bahan baku naik.

Di tengah tekanan tersebut, produk kerajinan tembaga Cepogo tetap memiliki pasar tersendiri, termasuk di luar negeri. Produk yang paling diminati di antaranya adalah panel-panel tembaga, yang dipasarkan hingga ke luar negeri seperti ke Amerika. Para perajin pun berharap nilai tukar dan harga bahan baku segera kembali stabil agar pesanan dapat kembali mengalir seperti semula.

Loading article...