Matahari baru saja terbit di kota Mekah, Arab Saudi, namun pasar tumpah Misfalah sudah ramai dipenuhi jemaah haji Indonesia. Usai menyelesaikan puncak ibadah haji, para jemaah langsung mendatangi lapak-lapak di depan pemondokan mereka untuk berburu buah tangan sebelum kembali ke tanah air.
Sektor Misfalah Mekah berubah menjadi kampung halaman kedua bagi jemaah Indonesia. Berbagai suvenir khas Arab tersedia mulai dari perhiasan, boneka unta, hingga beragam oleh-oleh yang disiapkan para pedagang untuk memenuhi kebutuhan jemaah yang ingin membawa kenangan dari tanah suci.
Tak hanya menjadi tempat berburu oleh-oleh dengan harga terjangkau, pasar Misfalah juga menjadi penawar rindu kampung halaman. Para pedagang Indonesia menjajakan aneka makanan khas Nusantara mulai dari klepon, bakwan, dadar gulung, mie goreng, hingga semangkuk bakso panas yang paling dirindukan para jemaah.
Harga makanan Indonesia di pasar Misfalah cukup terjangkau dengan rata-rata 5 riyal Saudi atau sekitar 25 ribu rupiah per porsi. Para jemaah mengaku sangat merindukan masakan Indonesia setelah berminggu-minggu menjalani ibadah haji di tanah suci.
Seorang jemaah yang mengaku sudah kedua kalinya datang ke pasar Misfalah menceritakan kegembiraannya menemukan bakso dan berbagai makanan Indonesia. Ia langsung membeli bakso, dadar gulung, mie goreng, dan teri merah untuk melepas kerinduan akan cita rasa masakan kampung halaman.
Menariknya, sebagian besar transaksi di pasar tumpah Misfalah bisa dilakukan langsung menggunakan mata uang rupiah. Hal ini semakin menambah suasana kedekatan dengan tanah air meskipun berada ribuan kilometer jauhnya di kota suci Mekah.
Kehadiran pasar tumpah yang menyajikan cita rasa dan kearifan Nusantara di Tanah Suci menjadi potret hangat yang memperlihatkan bagaimana jemaah haji Indonesia tetap menjaga ikatan budaya dan kuliner dengan kampung halaman. Momen ini menjadi bagian dari kebahagiaan jemaah setelah menunaikan ibadah haji yang merupakan salah satu rukun Islam.
