Sebuah tradisi unik kembali digelar di Kolombia dengan melibatkan puluhan ton tomat. Panitia menyiapkan sekitar 40 ton tomat untuk penyelenggaraan festival tomat tahunan tersebut. Acara ini menjadi salah satu tradisi yang ditunggu di negara itu. Tomat dalam jumlah besar menjadi pusat dari seluruh kemeriahan acara yang berlangsung.
Festival yang digelar bernama Great Colombian Tomatina dan kini memasuki edisi ke-16. Perhelatan tersebut kembali menyelimuti Kota Sutamarchán di Kolombia dengan warna merah. Suasana kota berubah total saat tradisi ini berlangsung. Warna merah dari tomat mendominasi hampir seluruh area kegiatan.
Inti dari festival ini adalah aksi perang tomat yang melibatkan banyak orang. Sekitar 40 ton tomat dihabiskan dalam aksi saling lempar tersebut. Jumlah tomat yang besar itu menunjukkan skala dari kegiatan yang digelar. Perang tomat pun menjadi daya tarik utama bagi para peserta yang hadir.
Kegiatan tahunan ini berhasil menarik perhatian banyak kalangan. Ribuan warga lokal maupun wisatawan ikut ambil bagian dalam perang tomat. Mereka berbaur dalam suasana yang penuh warna dan keramaian. Antusiasme para peserta membuat acara berlangsung semakin meriah.
Meski terlihat boros, panitia menegaskan bahwa tomat yang digunakan bukan tomat yang layak makan. Seluruh tomat yang dipakai adalah tomat yang sudah rusak atau membusuk. Dengan kondisi tersebut, tomat itu memang sudah tidak layak untuk dikonsumsi manusia. Penjelasan ini disampaikan untuk menjawab kekhawatiran soal pemborosan bahan pangan.
Bagi para peserta, festival ini memiliki makna tersendiri di luar sekadar hiburan. Mereka mengaku aksi perang tomat menjadi sarana terbaik untuk melepaskan adrenalin. Selain itu, kegiatan ini juga dinilai ampuh untuk melepaskan stres sehari-hari. Sensasi saling lempar tomat memberikan pengalaman yang berbeda bagi mereka.
Tradisi perang tomat di Kolombia ini ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang. Festival tersebut telah digelar sejak tahun 2005 hingga saat ini. Acara ini diadaptasi dari tradisi Tomatina yang terkenal di Spanyol. Dengan demikian, perhelatan di Sutamarchán menjadi versi Kolombia dari tradisi yang berasal dari Eropa tersebut.
