Iran disebut mulai menerapkan kebijakan tarif terhadap kapal-kapal yang melintas Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Kebijakan ini menambah dimensi baru dalam konflik yang telah berlangsung hampir 85 hari antara Amerika Serikat dan Iran.
Qatar sebagai salah satu negara pengekspor LNG terbesar di dunia menjadi pihak yang paling terdampak oleh kebijakan ini. Biasanya LNG yang diproduksi Qatar diekspor melalui Selat Hormuz, sehingga pengenaan tarif atau hambatan apapun di jalur tersebut langsung berdampak pada sektor energi negara tersebut.
Reporter tvOne News yang berada di Doha, Qatar melaporkan bahwa kerugian yang ditimbulkan sangat besar terutama di bidang energi. Selat Hormuz merupakan jalur yang digunakan untuk proses ekspor gas alam cair yang menjadi tulang punggung perekonomian Qatar.
Di sisi lain, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdurrahman Al-Thani terus melakukan komunikasi diplomatik intensif dengan pemimpin kawasan termasuk Turki, Arab Saudi, Yordania, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Inggris untuk mendorong de-eskalasi konflik dan memastikan kebebasan navigasi di selat tersebut.
Meskipun kenaikan biaya bahan pokok dan BBM di Qatar belum terlihat secara signifikan, terdapat kenaikan dari bulan sebelumnya. Pemerintah Qatar terus menekankan bahwa solusi diplomatik dan dialog regional serta penghormatan terhadap hukum internasional merupakan prioritas utama untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
