LIVE PROTOCOL
EET--:--:-- edition--.--.--

Kenaikan harga Pertamax picu antrean panjang di SPBU dan kenaikan harga pangan

Kenaikan harga Pertamax picu antrean panjang di SPBU dan kenaikan harga pangan

Kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, yang berlaku sejak 10 Juni, memicu antrean panjang di sejumlah SPBU dan membuat banyak pengendara beralih ke Pertalite. Dampaknya turut dirasakan pada harga komoditas pangan di pasar tradisional, termasuk di Kota Tegal, Jawa Tengah.

Kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi jenis Pertamax telah memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU. Puluhan kendaraan roda empat dan roda dua terlihat mengantre untuk mendapatkan bahan bakar di tengah perubahan harga tersebut.

Harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dengan selisih sekitar Rp4.000. Selisih harga ini membuat banyak pengendara beralih menggunakan BBM bersubsidi jenis Pertalite untuk menghemat biaya transportasi harian.

Di sejumlah SPBU, BBM jenis solar juga mengalami kelangkaan, hingga membuat sopir truk harus mengantre selama berjam-jam. Antrean panjang juga terlihat di SPBU Watas, Kabupaten Kulon Progo, tempat pengendara sepeda motor menunggu lama untuk mendapatkan Pertalite.

Dampak kenaikan harga BBM tidak berhenti di pompa bensin. Harga sejumlah komoditas pangan di beberapa daerah ikut melonjak pasca kenaikan harga yang berlaku sejak tanggal 10 Juni.

Di pasar tradisional Kota Tegal, Jawa Tengah, salah satu komoditas tercatat naik Rp500 per kilogram, dari Rp26.500 menjadi Rp27.000 pada hari Sabtu. Kenaikan biaya turut dirasakan pada operasional peternakan dan transportasi.

Beban tersebut pada akhirnya menambah tekanan ekonomi bagi konsumen, terutama masyarakat ekonomi bawah. Salah satu dampak yang terlihat di pasaran adalah ukuran tempe yang semakin kecil seiring dengan naiknya biaya produksi.

Loading article...