LIVE PROTOCOL
EET--:--:-- edition--.--.--

Pertamina naikkan harga Pertamax dan Pertamax Green, BBM subsidi tetap

Pertamina naikkan harga Pertamax dan Pertamax Green, BBM subsidi tetap

Mulai hari ini, Pertamina resmi menaikkan harga BBM non-subsidi. Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green menjadi Rp17.000 per liter setelah evaluasi harga minyak dunia, sementara Pertalite dan Biosolar subsidi dipastikan tidak berubah.

Pertamina resmi menaikkan harga sejumlah bahan bakar minyak non-subsidi mulai hari ini, sehingga masyarakat yang menggunakan produk tersebut harus merogoh kocek lebih dalam saat mengisi kendaraan. Penyesuaian harga ini berlaku untuk Pertamax dan Pertamax Green, dua jenis BBM non-subsidi yang banyak digunakan pengendara di sejumlah wilayah. Kenaikan diumumkan setelah perusahaan melakukan evaluasi terhadap kondisi harga minyak dunia dan harga pasar terkini.

Untuk Pertamax, harga jual kini naik menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan ini langsung dirasakan konsumen yang selama ini mengandalkan Pertamax sebagai pilihan bahan bakar harian mereka. Sebagai produk BBM non-subsidi, harga Pertamax memang bergerak mengikuti dinamika pasar, sehingga penyesuaian seperti ini dapat terjadi secara berkala sesuai perkembangan harga.

Kenaikan juga berlaku untuk Pertamax Green, yang harganya kini menjadi Rp17.000 per liter. Produk ini berada pada tingkat harga yang lebih tinggi dibanding Pertamax biasa, dan penyesuaian terbaru membuat selisihnya tetap terasa bagi konsumen. Dengan harga baru tersebut, pengguna Pertamax Green turut menanggung dampak dari pembaruan harga yang diberlakukan hari ini.

Menurut Pertamina, penyesuaian harga ini dilakukan setelah evaluasi berkala dengan mempertimbangkan pergerakan harga minyak mentah dunia serta harga pasar. Mekanisme evaluasi semacam ini menjadi dasar bagi perusahaan untuk menentukan apakah harga BBM non-subsidi perlu dinaikkan, diturunkan, atau dipertahankan. Kenaikan kali ini disebut berlaku di sejumlah wilayah.

Di tengah kenaikan tersebut, pemerintah memastikan bahwa harga bahan bakar bersubsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual seharga Rp10.000 per liter, sementara Biosolar bersubsidi tetap berada di angka Rp6.800 per liter. Dengan demikian, penyesuaian harga hanya menyentuh produk non-subsidi, sedangkan BBM yang menjadi andalan banyak masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah tetap pada harga lama.

Pertamina menegaskan bahwa langkah penyesuaian harga ini diambil untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi sekaligus menyesuaikan diri dengan dinamika harga ekonomi global. Perusahaan menempatkan kebijakan harga sebagai bagian dari upaya memastikan ketersediaan bahan bakar tetap terjaga, di tengah pergerakan harga energi di tingkat internasional yang terus berubah.

Bagi konsumen, perubahan harga ini menjadi pengingat bahwa BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar global. Setiap kali harga minyak dunia bergerak, penyesuaian harga di tingkat konsumen dapat menyusul, baik naik maupun turun. Mulai hari ini, pengguna kedua jenis bahan bakar tersebut perlu menyesuaikan anggaran mereka dengan tarif terbaru yang telah ditetapkan.

Loading article...