Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa Indonesia akan meluncurkan B50 pada bulan Juli ini. Pengumuman itu ia sampaikan dalam pidatonya di acara Pekan Nasional Petani dan Nelayan atau PENAS yang digelar di Kabupaten Gorontalo, dengan menyebut peluncuran tersebut akan dilakukan dalam hitungan hari ke depan.
Menurut Prabowo, B50 merupakan bahan bakar solar yang akan diolah dengan campuran sebesar 50 persen yang berasal dari kelapa sawit. Dengan komposisi tersebut, sebagian besar kebutuhan bahan bakar solar diharapkan dapat dipenuhi dari sumber dalam negeri yang berbasis komoditas perkebunan nasional.
Prabowo menegaskan bahwa dengan penerapan B50, Indonesia tidak akan lagi mengimpor solar dari luar negeri. Ia menyatakan bahwa langkah tersebut akan memberikan penghematan yang sangat besar bagi negara, karena ketergantungan pada solar impor selama ini menjadi salah satu beban.
Lebih jauh, Prabowo menyampaikan target yang lebih besar di bidang energi. Ia memperkirakan bahwa dalam tiga tahun ke depan, atau paling lama empat tahun lagi, Indonesia akan mampu mencapai swasembada energi.
Dalam kerangka itu, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia tidak ingin lagi mengimpor apa pun untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak dan energinya. Pernyataan tersebut menegaskan arah kebijakan menuju kemandirian energi yang ia usung.
Pengumuman mengenai B50 dan swasembada energi itu disampaikan Prabowo di hadapan para petani dan nelayan yang hadir dalam acara PENAS. Program ini menghubungkan sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, dengan upaya mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan bakar impor.
Langkah menuju swasembada energi ini disampaikan sejalan dengan penekanan Prabowo pada kemandirian nasional di berbagai bidang. Dalam pidato yang sama, ia juga berbicara mengenai upaya memperkuat ketahanan pangan, sehingga isu pangan dan energi ditempatkan sebagai bagian dari visi kemandirian bangsa.
