LIVE PROTOCOL
EET--:--:-- edition--.--.--

Jumlah jemaah haji Indonesia yang dirawat pasca-Armusna turun jadi 210

Jumlah jemaah haji Indonesia yang dirawat pasca-Armusna turun jadi 210

Jumlah jemaah haji Indonesia yang dirawat usai menjalani puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina mengalami penurunan signifikan tahun ini. Pelaksana tugas Pusat Kesehatan Haji Indonesia, Dr. Dani Pramudya, menyatakan tahun ini ada 210 jemaah yang dirawat, dibanding lebih dari 300 orang pada tahun 2025, berkat pengetatan istitaah kesehatan.

Jumlah jemaah haji Indonesia yang jatuh sakit dan harus dirawat usai menjalani puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina mengalami penurunan signifikan tahun ini. Seperti dilaporkan tvOne News, angka jemaah yang dirawat pasca-Armusna lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sebuah perkembangan yang dinilai cukup positif bagi penyelenggaraan ibadah haji.

Pelaksana tugas Pusat Kesehatan Haji Indonesia di Kementerian Haji dan Umrah, Dr. Dani Pramudya, menyatakan bahwa jumlah jemaah haji yang sakit pasca-Armusna pada tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu. Pada tahun ini tercatat ada 210 jemaah yang dirawat, sedangkan pada tahun 2025 jumlah jemaah yang dirawat mencapai lebih dari 300 orang.

Penurunan angka tersebut dinilai tak terlepas dari kebijakan Kementerian Haji yang memperketat syarat istitaah atau kelayakan kesehatan jemaah sejak sebelum keberangkatan. Pengetatan skrining kesehatan ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat kondisi kesehatan jemaah lebih terjaga selama berada di Tanah Suci, khususnya pada fase puncak ibadah haji.

Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, dilakukan seleksi kesehatan yang ketat di embarkasi sebelum jemaah berangkat. Akibat penerapan aturan istitaah ini, hampir 300 calon jemaah dinyatakan tidak layak terbang karena kondisi kesehatannya dinilai berisiko, sehingga jumlah jemaah dengan kerentanan kesehatan yang berangkat dapat ditekan sejak awal.

Secara umum, jemaah yang dirawat pasca-Armusna mengalami keluhan seperti sesak nafas dan batuk yang dipicu oleh faktor kelelahan. Kondisi fisik yang menurun setelah menuntaskan rangkaian ibadah inti haji, ditambah adanya penyakit penyerta atau komorbid yang sudah diderita sebagian jemaah, turut memengaruhi status kesehatan mereka usai puncak ibadah.

Menurut Dr. Dani Pramudya, faktor adaptasi juga turut berperan dalam menekan angka jemaah yang sakit. Para jemaah dinilai sudah mulai terbiasa dengan kondisi dan cuaca selama berada di Makkah, sehingga ketika memasuki fase puncak ibadah dan setelahnya, kasus jemaah yang jatuh sakit dapat lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Penurunan jumlah jemaah yang dirawat ini menjadi salah satu indikator membaiknya tata kelola kesehatan dalam penyelenggaraan ibadah haji Indonesia. Dengan kombinasi antara pengetatan istitaah di embarkasi dan proses adaptasi jemaah di Tanah Suci, pemerintah berharap risiko kesehatan jemaah, terutama pada fase paling melelahkan, dapat terus ditekan pada musim-musim haji mendatang.

Loading article...