Relawan Indonesia yang menjadi bagian dari kapal bantuan kemanusiaan Global Smooth Flotilla mengungkapkan penyiksaan brutal yang dialami selama ditahan oleh pasukan Israel. Para aktivis menceritakan bahwa mereka dipaksa berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung, dipukuli, dan dijemur berjam-jam di bawah terik matahari.
Menurut kesaksian para relawan, mereka diarahkan ke sebuah kontainer gelap di mana empat orang melakukan penyiksaan. Kejadian ini bukan terjadi sekali dua kali, melainkan berulang kali hingga beberapa aktivis hampir kehilangan kesadaran. Aktivis yang bukan berasal dari Eropa dan berkulit putih mengalami pemukulan yang lebih parah.
Jenis penyiksaan yang dialami termasuk kejahatan seksual, penembakan, dan pembenturan kepala. Setidaknya dua hingga tiga aktivis mengalami trauma kepala yang membutuhkan pemeriksaan intensif di rumah sakit besar. Beberapa orang dibawa menggunakan stretcher dan ada yang mengalami pendarahan sehingga harus dioperasi.
Jurubicara dinas penjara Israel membantah semua tuduhan kekerasan dan menyebutnya tidak memiliki dasar fakta. Israel mengklaim bahwa setiap tahanan diperlakukan sesuai dengan hukum dan mendapatkan hak dasar termasuk pelayanan medis sesuai standar profesional Kementerian Kesehatan Israel.
Para aktivis yang telah dibebaskan menyatakan tekad untuk tidak menyerah dalam perjuangan mereka. Mereka mengingatkan bahwa sekitar 9.000 tahanan Palestina masih berada di dalam penjara Israel, mengalami penyiksaan yang jauh lebih brutal, termasuk ratusan anak-anak dan perempuan yang ditahan tanpa proses pengadilan.
