Seorang aktivis kemanusiaan berkewarganegaraan Indonesia yang bergabung dalam misi Global Freedom Flotilla kedua telah dicegat oleh tentara Israel saat menuju Gaza. Dalam pesan yang disampaikan melalui siaran televisi, ia memohon kepada pemerintah Republik Indonesia untuk membebaskannya, menyatakan bahwa tindakan ini menunjukkan rezim penjajahan terus bertindak untuk melanjutkan genosida mereka.
Menurut pengamat yang hadir dalam diskusi tvOne, ini bukan kali pertama relawan misi kemanusiaan dicegat oleh Israel. Misi flotila ini merupakan inisiatif masyarakat sipil dunia yang berupaya membuka akses koridor kemanusiaan melalui laut, menggunakan perairan internasional yang sah dan legal. Upaya serupa telah dilakukan sejak tahun 2010, dengan flotila pertama di era baru pada September 2025.
Para penyelenggara misi menjelaskan bahwa mereka telah melakukan mitigasi dan antisipasi risiko sebelum keberangkatan. Partisipan diseleksi berdasarkan kemampuan dan latar belakang profesi tertentu, termasuk tim medis dan ahli rehabilitasi. Namun risiko pencegatan oleh Israel tetap tinggi mengingat blokade ketat yang diberlakukan terhadap jalur laut menuju Gaza.
Insiden ini diharapkan dapat menginspirasi dan mendorong negara-negara yang memiliki kekuatan politik untuk melanjutkan upaya pembukaan akses kemanusiaan ke Gaza. Para aktivis menegaskan bahwa mereka akan terus melakukan upaya serupa dengan tujuan membuka akses bantuan kemanusiaan secara penuh kepada masyarakat Gaza-Palestina.
