Tentara Israel terus memperluas operasi militernya di Lebanon Selatan meskipun kesepakatan gencatan senjata masih berlaku. Dalam sehari, dilaporkan lebih dari 30 serangan udara menghantam sejumlah kawasan di wilayah tersebut, memicu kepanikan warga dan jatuhnya korban jiwa. Serangan militer di kota Tirvel Siyeh menewaskan enam warga sipil, termasuk seorang wanita dan seorang anak.
Israel mengeluarkan perintah evakuasi paksa baru yang menyasar 9 desa di Lebanon Selatan, khususnya di sekitar wilayah Sidon dan Nabatiyeh. Perintah ini memaksa warga setempat meninggalkan kediaman mereka di tengah intensitas serangan yang belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi. Serangan udara juga menghantam desa Arzi, menargetkan rumah Wali Kota Ahmad Mitrak, meskipun tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat hampir 3.000 orang tewas dan lebih dari 9.000 warga luka-luka sejak serangan Israel dimulai pada 2 Maret 2026. Angka ini terus bertambah seiring berlanjutnya operasi militer yang oleh Israel diklaim ditujukan untuk menyerang tempat persembunyian Hizbullah.
Pada praktiknya, kesepakatan gencatan senjata yang telah diperpanjang selama 45 hari melalui perundingan di Washington tidak pernah benar-benar dipatuhi di lapangan oleh Israel. Serangan udara terus dilancarkan ke Yohmur al-Shakif dan Zautar al-Sharkia, sementara zona pengungsian paksa bagi warga sipil terus diperluas.
Artikel ini disusun oleh redaksi AVALW News berdasarkan pemantauan siaran langsung iNews TV Indonesia (terdeteksi pada 19 Mei 2026 pukul 02:30 UTC). Segmen asli dapat ditonton di: https://www.youtube.com/watch?v=M6byQNvprw8&t=9014s
