Presiden Jerman Frank Walter Steinmeier melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada Senin, 15 Juni. Kunjungan satu hari ke Jakarta ini disebut sebagai langkah untuk memperkuat kerja sama bilateral antara kedua negara, dengan agenda utama berupa pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka.
Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, menyebut kunjungan Presiden Steinmeier dilandasi keinginan Jerman untuk memperkuat kemitraan dengan negara-negara berkembang yang kuat, termasuk Indonesia. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia dinilai memiliki posisi penting bagi Jerman dalam penguatan hubungan di kawasan, dengan komitmen menjadi mitra jangka panjang yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Selama kunjungan satu hari di Jakarta, Steinmeier dijadwalkan tidak hanya bertemu dengan Presiden Prabowo, tetapi juga mengunjungi Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. Presiden Jerman itu juga akan berdiskusi dengan komunitas intelektual dan peneliti Indonesia, serta didampingi delegasi bisnis dari berbagai sektor untuk menjajaki peluang kerja sama yang lebih luas.
Saat tiba di Istana Merdeka, Presiden Steinmeier dijadwalkan disambut oleh sejumlah siswa yang mengenakan pakaian adat. Presiden Prabowo Subianto akan menyambut langsung dan mengajak Steinmeier mengikuti upacara kenegaraan serta inspeksi pasukan, sebelum keduanya menggelar pertemuan empat mata yang dilanjutkan dengan pertemuan bilateral dan ditutup dengan jamuan makan siang bersama.
Pertemuan kali ini menjadi pertemuan pertama antara Presiden Steinmeier dan Presiden Prabowo Subianto. Sebelumnya, pada tahun 2022, Steinmeier sudah pernah bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Jawa Barat, dalam rangka mempererat hubungan kedua negara.
Dari sisi perdagangan, hubungan Indonesia dan Jerman telah lama terjalin dengan posisi surplus bagi Indonesia. Nilai ekspor Indonesia ke Jerman pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,33 miliar USD, sedangkan impor dari Jerman sebesar 3,59 miliar USD, sehingga total perdagangan kedua negara mencapai 8,9 miliar USD. Salah satu komoditas utama penyumbang surplus tersebut adalah alas kaki.
Dalam pertemuan bilateral, sejumlah isu strategis dijadwalkan dibahas oleh kedua kepala negara, mulai dari energi baru terbarukan, pendidikan, hingga pangan. Isu energi baru terbarukan disebut menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo, dan sebelumnya juga sempat dibahas pada pertemuan Steinmeier dengan Joko Widodo di Bogor pada 2022.
Seusai pertemuan bilateral, dalam pernyataan pers bersama, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa kedua negara membahas penguatan kemitraan terutama di bidang ekonomi, investasi, transisi energi, ketahanan energi, pendidikan, dan ketenagakerjaan untuk meningkatkan volume perdagangan serta investasi yang saling menguntungkan. Prabowo menekankan harapannya agar perjanjian kemitraan Indonesia dengan Uni Eropa, IEU-CEPA, dapat segera mencapai kesimpulannya, dan meminta Jerman terus berperan aktif dalam proses finalisasi perjanjian internal di Eropa. Ia juga menyebut kunjungan ini mengawali peringatan 75 tahun hubungan bilateral kedua negara pada tahun 2027.
Indonesia, lanjut Prabowo, mengundang Jerman untuk memperluas investasi di sejumlah sektor penting, antara lain transisi energi, hilirisasi industri, sektor kendaraan seiring arah menuju kendaraan listrik, pengembangan industri semikonduktor, rantai pasok mineral kritis, serta pembangunan infrastruktur. Ia menyambut baik program Partnering in Business with Germany untuk pelaku UMKM dan menyatakan Indonesia akan menjadi tuan rumah Joint Economic and Investment Committee yang kedua tahun ini. Di sektor ketenagakerjaan kesehatan, Prabowo mengapresiasi penandatanganan letter of intent mengenai Global Skills Partnership di bidang keperawatan serta keinginan memperluas peluang kerja tenaga kerja Indonesia di Jerman, termasuk di sektor teknologi tingkat tinggi.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Steinmeier menilai Indonesia bukan hanya pasar yang menjanjikan, tetapi juga lokasi investasi yang semakin menarik, sebagaimana tercermin dari delegasi ekonomi tingkat tinggi yang menyertainya di sektor permesinan, teknologi, dan logistik. Ia sepakat dengan Prabowo bahwa pembangunan ekonomi dan transisi menuju energi terbarukan harus berjalan beriringan, dan menyoroti bahwa dampak perubahan iklim serta konflik geopolitik memperlihatkan ketergantungan kedua negara pada energi fosil. Steinmeier turut menggarisbawahi nilai toleransi beragama dan keberagaman budaya di Indonesia yang menurutnya mempererat hubungan kedua negara.
