Presiden Prabowo Subianto memanggil jajaran direksi PT PLN, termasuk Direktur Utama Darmawan Prasojo, ke Istana Merdeka pada siang hari ini. Pemanggilan tersebut berkaitan dengan pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa selama sebulan terakhir. Dalam pertemuan itu, direksi PLN menyampaikan laporan langsung kepada kepala negara mengenai situasi kelistrikan terkini.
Sebelum menghadap Presiden, Direktur Utama PLN terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh pemadaman bergilir di sejumlah daerah. Permintaan maaf ini disampaikan di tengah meningkatnya keluhan warga dan pelaku usaha yang terdampak oleh terputusnya aliran listrik dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam laporannya, Direktur Utama PLN menyatakan bahwa pasokan listrik dari PLN sudah mulai membaik. Ia menjelaskan bahwa penyebab utama pemadaman adalah kendala teknis pada dua pembangkit mitra atau independent power producer, yang terpaksa keluar dari sistem interkoneksi. Keluarnya kedua pembangkit itu mengganggu penyaluran pasokan listrik ke sejumlah wilayah.
PLN menyebut salah satu pembangkit yang sempat bermasalah kini telah berhasil pulih setelah ditangani bersama mitra. Karena itu, sejak akhir pekan lalu pasokan disebut mulai mengalir kembali untuk memperkuat ketahanan daya di Pulau Jawa, sehingga pemadaman bergilir diperkirakan dapat diminimalisir mulai hari ini.
Sebagai langkah lanjutan, PLN menyatakan tengah melakukan penguatan teknis pada seluruh unit pembangkit. Selama masa krisis ini, perusahaan juga menerapkan operasional siaga selama 24 jam penuh dalam sepekan ke depan. Tujuannya adalah memetakan kembali berbagai kendala dan memastikan agar gangguan serupa tidak terulang.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia telah menginstruksikan PLN untuk melakukan evaluasi atas peristiwa ini. Bahlil membantah anggapan bahwa pemadaman disebabkan oleh minimnya stok energi primer. Ia menyebut pasokan batu bara untuk PLN justru melebihi kebutuhan, dengan total kebutuhan sekitar 154 juta ton, sementara penugasan kepada perusahaan batu bara nasional mencapai 180 hingga 190 juta ton. Selain PLN, Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roslani juga terlihat hadir di Istana.
