politics | tvOne News |
Menurut UNICEF, sebelas anak dilaporkan tewas atau terluka setiap harinya akibat perluasan zona tempur Israel sejak gencatan senjata berlaku pada enam belas April. Sejak saat itu lima puluh lima anak tewas dan dua ratus dua belas lainnya luka-luka. Israel kini berencana menguasai hingga tujuh puluh persen wilayah Gaza.
UNICEF melaporkan bahwa sebelas anak dilaporkan tewas atau terluka setiap harinya akibat perluasan zona tempur Israel di Gaza sejak gencatan senjata mulai berlaku pada enam belas April lalu. Total sejak saat itu, lima puluh lima anak telah tewas dan dua ratus dua belas lainnya mengalami luka-luka.
Insiden mengerikan ini terjadi setelah Israel memperluas zona tempur mereka, termasuk membombardir pinggiran ibu kota Beirut. Jurubicara UNICEF mendesak seluruh pihak untuk kembali menghormati gencatan senjata serta melindungi keselamatan warga sipil, khususnya anak-anak yang menjadi korban paling rentan.
Sementara itu, harapan warga Gaza untuk kembali ke rumah mereka pupus setelah Israel berencana memperluas wilayah jajahannya hingga tujuh puluh persen. Seorang ayah empat anak, Deya Al-Emrani, mengecek puing-puing rumahnya di kota Gaza yang hancur rata dengan tanah akibat bombardir brutal pasukan Israel.
Sebagai pengungsi di Kem Al-Shati, Al-Emrani mengaku telah berkali-kali berpindah tempat untuk menghindari serangan. Meski berharap suatu hari bisa kembali ke rumahnya secara permanen, harapan tersebut hancur setelah mendengar rencana Israel untuk menguasai sebagian besar wilayah Gaza.
Pasukan Israel saat ini diklaim telah menguasai enam puluh empat persen wilayah Gaza. Perdana Menteri Netanyahu beralasan bahwa pengambilan wilayah ini berfungsi sebagai zona penyangga untuk menjaga keamanan. Namun bagi warga Palestina, alasan tersebut hanyalah strategi Israel untuk mengusir mereka secara permanen dari tanah kelahiran mereka.