Nilai tukar rupiah terus melemah tajam dan menembus level 17.700 per dolar AS pada Senin siang, menurut data Bloomberg. Pelemahan ini mendorong Komisi XI DPR untuk memanggil Gubernur Bank Indonesia guna meminta penjelasan atas kondisi mata uang nasional yang terus tertekan.
Anggota Komisi XI DPR mengkritisi Bank Indonesia yang menyebut rupiah 'relatif stabil' dibandingkan mata uang negara lain, sementara masyarakat merasakan dampak langsung berupa kenaikan harga dan persepsi ekonomi yang melemah. Salah satu anggota dewan bahkan menyindir bahwa jika rupiah mencapai 17.845, itu akan menjadi 'tanggal kemerdekaan Indonesia' (17-8-45).
Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah intervensi termasuk intervensi besar-besaran yang menurunkan cadangan devisa dari 156 miliar menjadi 146 miliar dolar AS. Suku bunga SRBI telah dinaikkan menjadi 6,41%, BI juga membeli Surat Berharga Negara senilai 332 triliun rupiah pada 2025 dan menambah 133 triliun lagi, serta memperketat pembelian dolar dari batas 50 ribu menjadi 25 ribu dolar per transaksi.
Pertanyaan kritis yang mengemuka di DPR adalah bahwa semua instrumen yang dimiliki Bank Indonesia sudah digunakan, namun rupiah tetap terus melemah. Pelemahan rupiah terjadi di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga energi serta arus modal asing.
Artikel ini disusun oleh redaksi AVALW News berdasarkan pemantauan siaran langsung iNews TV Indonesia (terdeteksi pada 19 Mei 2026 pukul 02:13 UTC). Segmen asli dapat ditonton di: https://www.youtube.com/watch?v=M6byQNvprw8&t=7993s
