science | Metro TV |
Kasus dugaan pemalsuan riset oleh warga negara Indonesia di konferensi internasional ISPPD di Copenhagen Denmark mengguncang dunia akademik. Terduga pelaku diduga memalsukan identitas, berganti jilbab dan nametag dalam jeda 10 menit, serta membuat poster penelitian dengan bantuan AI.
Kasus dugaan pemalsuan riset oleh warga negara Indonesia di konferensi internasional ISPPD14 di Copenhagen, Denmark, terus mengguncang dunia akademik dan menjadi pembicaraan hangat di media sosial. Metro TV melaporkan secara rinci bahwa terduga pelaku berinisial P diduga memalsukan identitas dengan berganti jilbab dan nametag dalam jeda waktu hanya 10 menit untuk mempresentasikan dua abstrak berbeda sebagai dua orang yang berbeda.
Kejanggalan terdeteksi oleh peneliti Indonesia lain yang hadir di konferensi tersebut, termasuk peneliti bidang clinical medicine dari University of Oxford. Mereka menemukan bahwa satu orang yang sama mengumpulkan 4-5 abstrak sebagai first author, hal yang sangat tidak lazim dalam dunia akademik. Ketika didatangi dan ditanyakan mengenai data dan metodologi penelitiannya, terduga pelaku tidak mampu menjelaskan secara memadai.
Investigasi lebih lanjut mengungkap bahwa dua nama lembaga yang digunakan, yaitu AI Biomedicine Research Group dan IMCDS Biomed Research Foundation Jakarta, tidak memiliki kredibilitas yang dapat diverifikasi dan diduga merupakan lembaga fiktif. Terduga pelaku juga mengakui bahwa poster penelitian yang dipresentasikan dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan.
Para peneliti Indonesia yang mengungkap kasus ini juga mencurigai adanya upaya untuk mendapatkan travel grant secara tidak sah. Travel grant merupakan bantuan pembiayaan yang umum diberikan dalam konferensi internasional untuk membantu peserta hadir dan mempresentasikan hasil temuan mereka. Jika terbukti benar, kasus ini tidak hanya menyangkut etika akademik tetapi juga dapat masuk ke ranah penipuan.
Menanggapi kasus ini, Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan bahwa pihak kementerian terus melakukan koordinasi dan pendalaman bersama pihak terkait untuk memastikan fakta yang sebenarnya, status yang bersangkutan, serta keterkaitan dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia. Kasus ini memunculkan kekhawatiran serius tentang penggunaan AI untuk membuat riset palsu yang dapat merusak kepercayaan terhadap dunia ilmiah.