Seorang sarjana matematika Indonesia ketahuan melakukan presentasi riset kesehatan palsu di sebuah konferensi ilmiah internasional yang digelar di Denmark. Yang mengejutkan, orang tersebut bukan berlatar belakang ilmu kesehatan melainkan sarjana matematika.
Kecurangan ini terungkap berkat kejelian seorang peneliti Indonesia yang sedang menempuh pendidikan doktoral di bidang clinical medicine di Nuffield Department of Medicine, Oxford University. Peneliti tersebut telah berada di Oxford sejak tahun dua ribu dua puluh dua dan kini melanjutkan riset di Center for Genomic Pathogen Surveillance.
Menurut pengakuan peneliti Oxford tersebut, ia menyaksikan tiga presentasi dari orang yang sama dengan mengenalkan nama yang berbeda-beda. Salah satu presentasi membahas hasil PCV20 di mega cities pada negara berpenghasilan rendah dan menengah, padahal pengenalan PCV20 secara nasional di negara-negara berkembang belum ada.
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan integritas akademik di Indonesia. Sebuah riset dari Denmark dua tahun lalu menempatkan Indonesia di antara negara-negara dengan tingkat ketidakjujuran akademik tertinggi di dunia.
Pakar pendidikan menyebut masalah ini berakar pada mentalitas menerabas atau mencari jalan pintas yang sudah berlangsung lebih dari lima puluh tahun di Indonesia tanpa perubahan berarti. Budaya yang mengutamakan gelar dan nilai IPK dibandingkan integritas menjadi akar permasalahan.
Celah yang dimanfaatkan pelaku adalah bahwa untuk berpartisipasi dalam konferensi internasional, yang disubmit hanyalah abstrak. Apakah itu benar-benar hasil penelitian nyata baru dibuktikan saat presentasi dan tanya jawab di konferensi tersebut.
Kasus ini memicu diskusi luas tentang perlunya perbaikan ekosistem dan sistem evaluasi riset di Indonesia. Para ahli menyerukan agar tidak hanya kuantitas melainkan juga kualitas publikasi yang diutamakan, serta perlunya landasan hukum yang lebih koordinatif antar lembaga riset.
