Mojokerto dikenal sebagai kawasan peninggalan Majapahit yang otentik dan kerap disebut sebagai kota relief Hindu-Buddha. Di daerah inilah terdapat salah satu daya tarik utamanya, yaitu Patung Buddha Tidur yang menjadi salah satu ikon budaya dan keagamaan di wilayah tersebut.
Patung Buddha Tidur itu disebut-sebut sebagai yang terbesar ketiga di dunia, setelah Thailand dan Nepal. Patung ini terletak di dalam area Mahawihara Mojopahit, di Jalan Candibrahu, Desa Bejijong, Trowulan, yang menjadi pusat kunjungan bagi wisatawan maupun umat yang datang ke kawasan tersebut.
Dari sisi ukuran, patung ini memiliki panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter, serta telah mendapatkan penghargaan dari MURI. Karena ukuran dan keunikannya, Patung Buddha Tidur menjadi landmark yang menjadi ciri khas Mojokerto dan dikenal hingga ke berbagai daerah.
Tidak jauh dari patung tersebut terdapat gedung Aula Sasonobakti, yang digunakan sebagai tempat ibadah umat Buddha sekaligus tempat mendengarkan ceramah biksu tentang ajaran dhamma. Di teras pintu masuk gedung, berjajar patung-patung biksu berukuran sekitar 2,5 meter yang seolah menyambut para pengunjung yang datang.
Di depan gedung, pengunjung juga dapat melihat patung Raden Wijaya dan Patih Gajah Mada yang dibuat besar dan gagah. Kehadiran kedua patung tokoh besar Majapahit itu menandakan bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian dari masa ketika Majapahit pada era Buddha berkuasa di wilayah tersebut.
Untuk masuk ke kawasan Buddha Tidur, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar 5.000 rupiah. Mereka yang datang berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang agama yang berbeda-beda, dan banyak yang tertarik untuk mengenal peradaban religi Buddha masa lalu sekaligus melihat patung yang tersohor hingga se-Asia Tenggara ini.
Selain dikenal lewat patung Buddha Tidur, Mojokerto juga merupakan daerah penghasil patung replika relief. Salah satu toko pengrajin bernama Sari Bronze cukup dikenal di Trowulan sebagai tempat produksi ratusan hingga ribuan patung miniatur Buddha dan berbagai patung bercorak Majapahitan.
Salah satu perajinnya, Pak Sutono dari Ketunggulan, Trowulan, menceritakan bahwa ia sudah mulai membuat patung sejak sekitar tahun 1970 hingga 1975 dan terus berlanjut sampai sekarang. Ia membuat berbagai motif versi Majapahitan, dan dalam proses pengerjaannya dibantu rekan-rekan yang menangani bagian pengecoran serta finishing.
