Bursa saham Wall Street langsung terperosok setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Moztabah Khamenei melarang pengiriman uranium ke luar negeri. Indeks Dow Jones tercatat turun 25,5 poin pada pembukaan perdagangan Kamis pagi waktu setempat. Indeks S&P 500 melemah 22,2 poin atau 0,30 persen ke posisi 7.410, sementara Nasdaq juga terperosok 126,7 poin atau 0,48 persen ke level 26.143.
Kelemahan pasar dipicu oleh lonjakan harga minyak menyusul pernyataan Khamenei yang mempersulit negosiasi perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump merespons dengan menegaskan bahwa Iran harus menyerahkan uraniumnya ke Amerika Serikat dalam bentuk apapun dan tidak boleh memiliki uranium tingkat tinggi.
Dampak konflik di Timur Tengah juga semakin membebani industri penerbangan global. Maskapai Inggris EasyJet mencatat kerugian sebesar 552 juta poundsterling selama semester pertama yang berakhir pada 31 Maret 2026. Kerugian ini dipicu kenaikan biaya operasional, terutama biaya bahan bakar avtur yang melonjak hingga 25 juta poundsterling hanya dalam satu bulan.
Untuk meredam dampak yang lebih buruk, EasyJet telah melakukan lindung nilai atau hedging untuk 72 persen kebutuhan bahan bakarnya. Namun strategi ini hanya mampu menunda sebagian dampak, bukan menghilangkannya sama sekali, karena harga avtur terus merangkak naik seiring berlanjutnya ketegangan di Selat Hormuz.
Analis pasar memperingatkan bahwa jika negosiasi Iran-AS gagal mencapai kesepakatan dalam waktu dekat, volatilitas pasar akan terus berlanjut. Ketidakpastian geopolitik telah menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar global dalam beberapa bulan terakhir, dengan investor mencari aset-aset yang lebih aman di tengah eskalasi konflik.
