Sebuah aksi penembakan terjadi di sekolah menengah San Jose di Kota Tacloban, Provinsi Leyte, Filipina Tengah, yang menyebabkan tiga siswa tewas dan lima siswa lainnya mengalami luka-luka. Suara letusan tembakan yang tiba-tiba terdengar dari dalam area sekolah memicu kepanikan massal di lingkungan tersebut.
Begitu suara tembakan terdengar, para siswa dan guru berupaya menyelamatkan diri dengan berlindung di bawah meja. Sebagian dari mereka berusaha mengunci atau menahan pintu kelas agar tidak dapat dibuka, sementara sebagian lainnya berlari keluar ruangan untuk mencari tempat yang lebih aman dari lokasi kejadian.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, pelaku diduga melepaskan tembakan ke arah sesama siswa di dalam lingkungan sekolah. Rentetan tembakan itulah yang pada akhirnya merenggut nyawa tiga siswa, sementara lima siswa lain harus dirawat akibat luka-luka yang mereka derita dalam insiden tersebut.
Pihak kepolisian telah menangkap kedua terduga pelaku dalam peristiwa penembakan ini. Keduanya diketahui merupakan laki-laki yang masih berusia sangat muda, yaitu 14 dan 15 tahun, sebagaimana terungkap dari keterangan polisi yang menangani kasus tersebut di lapangan.
Hingga kini, motif di balik aksi penembakan yang dilakukan oleh kedua remaja itu belum diungkapkan oleh pihak berwenang. Penyelidikan masih terus berjalan untuk mengungkap latar belakang serta penyebab terjadinya penembakan di lingkungan sekolah menengah tersebut.
Menanggapi peristiwa ini, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Junior memerintahkan dilakukannya investigasi secara menyeluruh terhadap kasus penembakan di sekolah tersebut. Peristiwa kekerasan bersenjata yang melibatkan pelaku di bawah umur ini menambah keprihatinan terhadap keamanan di lingkungan pendidikan.
