Ratusan orang tua siswa mendatangi kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat di Kota Bandung untuk mempersoalkan hasil seleksi penerimaan murid baru tingkat SMA Negeri. Kedatangan mereka dipicu oleh kejanggalan dalam pengumuman penerimaan, yang dinilai merugikan sejumlah calon siswa. Persoalan ini membuat para orang tua merasa perlu meminta penjelasan langsung dari pihak dinas.
Kedatangan para orang tua ke kantor Dinas Pendidikan bukan hanya terjadi sekali. Sejak hari Senin hingga hari ini, mereka terus bolak-balik datang ke kantor tersebut. Mereka berulang kali menyambangi dinas untuk menuntut kejelasan terkait proses dan hasil seleksi penerimaan murid baru.
Inti dari keberatan para orang tua adalah hasil seleksi yang dinilai berubah dan tidak konsisten. Menurut mereka, sejumlah siswa yang sebelumnya sudah masuk dalam kuota penerimaan tiba-tiba tergeser. Bahkan, ada siswa yang namanya hilang dari daftar peserta yang dinyatakan lolos.
Para orang tua mempertanyakan perubahan tersebut, termasuk soal skor anak-anak mereka di dalam sistem penerimaan. Mereka menilai ada yang tidak beres ketika anak yang semula berada di posisi aman justru tergeser dari daftar penerimaan. Pertanyaan utama mereka adalah bagaimana perubahan itu bisa terjadi dalam proses seleksi.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena menyangkut masa depan pendidikan anak-anak mereka. Bagi orang tua, kepastian mengenai diterima atau tidaknya seorang anak di SMA Negeri menjadi sangat penting. Ketidakjelasan hasil seleksi membuat mereka tidak bisa langsung memastikan ke mana anak mereka akan melanjutkan sekolah.
Sejauh ini, penjelasan dari pihak penyelenggara dinilai belum memuaskan. Orang tua siswa menyatakan bahwa keterangan dari panitia penerimaan belum memberikan kepastian terkait proses seleksi. Hal inilah yang membuat mereka terus berdatangan dan bertahan untuk menuntut jawaban yang lebih jelas.
Persoalan penerimaan murid baru di SMA Negeri Jawa Barat ini memperlihatkan betapa sensitifnya proses seleksi pendidikan bagi masyarakat. Dengan ratusan orang tua yang terus mendatangi Dinas Pendidikan, tuntutan utama mereka tetap sama, yaitu penjelasan yang transparan mengenai mengapa anak-anak mereka bisa tergeser atau hilang dari daftar penerimaan.
