Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo terjadi pada sekitar pukul 06.37 Waktu Indonesia Barat di wilayah utara Indonesia. Menyusul kejadian tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terhadap potensi tsunami. Kekuatan gempa yang besar membuat kejadian ini langsung menjadi perhatian utama, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Sulawesi Utara.
Menurut BMKG, pusat gempa berada di wilayah Laut Sulawesi, tepatnya pada koordinat sekitar 5,80 derajat lintang utara dan 125,14 derajat bujur timur, atau berjarak sekitar 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, pada kedalaman 47 kilometer. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme pergerakan naik. Selain di Sulawesi Utara, guncangan juga dirasakan hingga ke wilayah Morotai, Halmahera Utara, dan Kabupaten Gorontalo Utara.
Menyusul kekuatan gempa yang besar, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami secara khusus untuk lima wilayah di Indonesia. Pada perkembangan sebelumnya, sejumlah daerah dinyatakan berstatus siaga dan sebagian lainnya berstatus waspada terkait potensi tsunami, dengan rekomendasi agar dilakukan tindakan evakuasi di wilayah yang berstatus siaga.
Di Kota Manado, Sulawesi Utara, guncangan gempa dilaporkan terasa cukup kuat dan berlangsung cukup lama. Meski demikian, hingga laporan disampaikan, kondisi di kota tersebut masih relatif stabil dan tenang. Belum ada informasi resmi mengenai apakah pemerintah akan mengambil tindakan tertentu sebagaimana rekomendasi yang muncul melalui aplikasi peringatan dini.
Guncangan yang kuat itu sempat menimbulkan kepanikan di sejumlah lokasi. Di Kota Manado, pasien sempat berhamburan keluar dari Rumah Sakit Siloam yang berada di Jalan Samratulangi, dan kepanikan serupa juga terjadi di sebuah rumah sakit di Minahasa Utara, mengingat kedua bangunan tersebut cukup tinggi. Sebagian pasien yang sempat menyelamatkan diri ke luar gedung dilaporkan kini telah kembali masuk. Selain itu, salah satu gedung transmisi TVRI di Kabupaten Kepulauan Sangihe disebut mengalami keretakan.
Informasi mengenai potensi tsunami ini disikapi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat pesisir. Di wilayah Kepulauan Sangihe, tepatnya di Tahuna, masyarakat dilaporkan tetap melanjutkan aktivitas seperti biasa. Warga di kawasan kepulauan tersebut terbilang sudah terbiasa menghadapi gempa, mengingat wilayah Kepulauan Sangihe dan Talaud kerap kali mengalami guncangan.
Hingga saat laporan disampaikan, belum diperoleh informasi resmi mengenai adanya gelombang atau kenaikan air laut di wilayah pesisir Tahuna. Aktivitas warga di sana disebut masih berlangsung normal, meskipun guncangan gempa yang dirasakan tergolong kuat dan cukup lama.
Gempa berkekuatan besar umumnya diikuti oleh gempa susulan, dan hal itu terjadi pula dalam peristiwa ini. Hingga pukul 07.11 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya dua aktivitas gempa susulan atau aftershock, masing-masing dengan magnitudo 6,7 dan 5,9. BMKG menegaskan bahwa informasi resmi hanya bersumber dari kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa peringatan dini tsunami dikeluarkan dalam waktu sekitar tiga menit setelah gempa dan diperbarui pada menit kesepuluh. Status yang ditetapkan adalah siaga, dengan perkiraan ketinggian gelombang sekitar 0,5 hingga 3 meter, serta waspada untuk ketinggian kurang dari 0,5 meter, dan warga di wilayah waspada diimbau menjauhi pantai menuju tempat yang lebih tinggi.
Setelah melalui sejumlah tahap pemutakhiran serta pencatatan tinggi gelombang di sejumlah wilayah, terutama di sekitar Sulawesi Utara, BMKG akhirnya menyatakan peringatan dini tsunami resmi diakhiri pada pukul 10.15 WIB. Menurut BMKG, pada saat itu sudah tidak ada lagi gelombang yang signifikan, sehingga bahaya tsunami akibat gempa tersebut dinyatakan telah berakhir.
