Suasana kepulangan jemaah haji Indonesia dari Tanah Suci selalu menyisakan cerita menarik. Jika pada umumnya jemaah tampil sederhana saat kembali ke tanah air, sebagian jemaah asal Makassar dan daerah lain di Sulawesi Selatan justru tampil berbeda, dengan busana glamor dan bertaburan aksesoris yang langsung menarik perhatian.
Penampilan mencolok itu sudah terlihat bahkan sejak mereka berada di Bandara Jeddah, Arab Saudi. Di tengah suasana kepulangan yang biasanya tenang dan bersahaja, gaya berpakaian para jemaah asal Makassar ini kerap menjadi daya tarik tersendiri bagi jemaah lain maupun orang-orang di sekitar mereka.
Para jemaah tampak berbalut busana warna-warni yang dihiasi manik-manik serta aksesoris emas. Penampilan yang berkilau itu membuat mereka mencuri perhatian dan kerap menjadi pusat perhatian saat menunggu kepulangan ke tanah air. Sekilas, gaya tersebut bahkan menyerupai sebuah pertunjukan busana.
Bagi masyarakat Bugis Makassar, gaya berpakaian yang gemerlap ini dikenal dengan sebutan bling-bling. Istilah itu menggambarkan tampilan yang penuh kilau dan ornamen, yang menjadi ciri khas saat para jemaah dari daerah tersebut bersiap meninggalkan Arab Saudi dan kembali ke kampung halaman.
Lebih dari sekadar penampilan, gaya bling-bling ini merupakan bagian dari tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun. Tradisi tersebut selalu hadir pada musim kepulangan haji, sehingga sudah menjadi pemandangan yang dinanti dan dikenali setiap kali jemaah asal Makassar dan Sulawesi Selatan tiba kembali di tanah air.
Busana yang gemerlap itu sarat makna bagi para jemaah. Penampilan tersebut menjadi simbol kebahagiaan dan rasa syukur atas kesempatan menunaikan ibadah haji, sekaligus atas keselamatan mereka untuk kembali ke kampung halaman dalam keadaan sehat walafiat setelah menjalani rangkaian ibadah yang panjang.
Selain sebagai ungkapan rasa syukur, tradisi ini juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Bugis Makassar yang masih terjaga hingga kini. Di tengah modernisasi, kebiasaan tampil bling-bling saat pulang haji tetap dipertahankan dan diwariskan, menjadikannya salah satu warna khas dalam suasana kepulangan jemaah haji Indonesia.
