Perseteruan terjadi antara nelayan tradisional dan nelayan tojok kerang di Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan. Para nelayan tradisional mengeluhkan semakin merajalelanya aktivitas tojok kerang di perairan Sungai Asahan. Mereka menilai kegiatan tersebut merusak ekosistem biota laut di kawasan itu. Ketegangan pun muncul di antara kedua kelompok nelayan yang sama-sama menggantungkan hidup pada perairan tersebut.
Sebagian besar warga Desa Saranghelang menggantungkan hidup sebagai nelayan tradisional. Mereka mencari hasil laut dengan cara-cara yang sederhana dan turun-temurun. Kehadiran nelayan tojok kerang dianggap mengusik aktivitas mereka sehari-hari. Hal inilah yang kemudian memicu keresahan di kalangan nelayan setempat.
Persoalan utama terletak pada alat yang digunakan oleh nelayan tojok kerang. Mereka memakai penggaruk besi untuk mencari kerang di dasar perairan. Menurut para nelayan tradisional, aktivitas ini mengakibatkan kerusakan pada dasar tanah berlumpur. Padahal dasar berlumpur itu merupakan habitat penting bagi biota laut di kawasan tersebut.
Dampak dari penggunaan alat itu tidak berhenti pada kerusakan dasar laut. Para nelayan menyebut aktivitas tersebut juga membunuh benih-benih hewan laut. Dengan begitu, populasi biota laut di perairan dikhawatirkan terus menurun dari waktu ke waktu. Kondisi ini dinilai mengancam keberlanjutan hasil tangkapan di masa depan.
Di sisi lain, nelayan tradisional berupaya merespons ajakan pemerintah dalam program ekonomi biru. Mereka membudidayakan bibit kerang darah di dalam keramba yang mereka kelola. Kerang yang dibudidayakan itu baru bisa dipanen setelah sekitar 8 bulan. Upaya ini menjadi salah satu cara mereka menjaga sekaligus memanfaatkan hasil laut secara berkelanjutan.
Sayangnya, usaha tambak kerang tersebut kerap kali terganggu. Tidak sedikit penojok kerang yang masuk ke dalam areal keramba milik nelayan tradisional. Di sana, mereka disebut mencuri hasil laut yang sedang dibudidayakan dengan susah payah. Tindakan itu membuat para nelayan tradisional merasa sangat dirugikan.
Selain pencurian, jaring yang telah dipasang oleh nelayan tradisional juga kerap rusak. Kerusakan alat tangkap ini menambah beban yang harus ditanggung oleh para nelayan. Pada akhirnya, seluruh persoalan tersebut menurunkan hasil tangkapan mereka. Para nelayan tradisional pun berharap ada penyelesaian atas konflik yang terjadi di perairan Asahan ini.
