Seorang siswa SMP di Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi korban pengeroyokan oleh teman-temannya sendiri. Peristiwa kekerasan itu menimpa salah satu pelajar di lingkungan sekolah, tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi para siswa untuk belajar. Kasus ini menambah daftar persoalan kekerasan yang terjadi di kalangan pelajar.
Dalam peristiwa tersebut, sejumlah siswa SMP terlihat mengeroyok salah satu teman mereka. Aksi itu tidak dilakukan oleh satu orang, melainkan oleh beberapa pelajar sekaligus yang bersama-sama menyerang korban. Hal ini membuat korban berada dalam posisi yang sulit untuk membela diri saat kekerasan berlangsung.
Aksi kekerasan tersebut terjadi di depan ruang kelas. Lokasinya yang berada di area sekolah membuat kejadian itu berlangsung secara terbuka dan disaksikan banyak orang. Peristiwa pengeroyokan ini pun menjadi tontonan bagi siswa-siswa lain yang berada di sekitar lokasi.
Di tengah berlangsungnya kekerasan, beberapa siswa sempat berusaha untuk melerai. Upaya tersebut menunjukkan adanya pihak yang berupaya menghentikan aksi pengeroyokan. Namun, usaha untuk memisahkan korban dari para pelaku tidak serta-merta menghentikan kekerasan yang terjadi.
Meski sudah ada yang mencoba melerai, pelaku terus memukul korban. Pukulan yang dilancarkan secara bertubi-tubi itu membuat kondisi korban semakin lemah. Akibatnya, korban akhirnya terjatuh dan tidak sadarkan diri di lokasi kejadian setelah menerima serangan dari teman-temannya.
Pengeroyokan ini bermula dari persoalan pemeriksaan tas. Korban diketahui menjadi sasaran penganiayaan setelah ia memeriksa tas salah satu rekannya. Pemeriksaan tersebut dilakukan karena rekannya dicurigai membawa rokok elektrik atau vape ke sekolah, sesuatu yang semestinya tidak dibawa ke lingkungan pendidikan.
Tindakan korban yang memeriksa tas temannya itu justru berujung pada kekerasan terhadap dirinya. Pihak yang tidak terima tasnya diperiksa kemudian melampiaskan kemarahan dengan mengeroyok korban hingga tak sadarkan diri. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana persoalan sederhana di sekolah dapat berubah menjadi aksi kekerasan yang membahayakan keselamatan seorang pelajar.
