Menjelang kedatangan jemaah haji Indonesia gelombang kedua di Kota Madinah, Kementerian Haji dan Umrah menggelar pertemuan khusus dengan 23 perusahaan katering penyedia konsumsi jemaah. Seperti dilaporkan tvOne News, dalam pertemuan tersebut Menteri Haji menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan makanan bagi jemaah haji Indonesia yang akan memadati kota tersebut.
Pertemuan ini digelar untuk mengamankan logistik pangan menjelang perpindahan jemaah dari Makkah menuju Madinah, yang dijadwalkan mulai berlangsung dalam waktu dekat. Dengan jumlah jemaah yang besar, pemerintah memandang penting memastikan seluruh penyedia katering siap melayani kebutuhan konsumsi para tamu Allah selama berada di Madinah.
Sejumlah catatan selama fase gelombang pertama dijadikan bahan evaluasi bersama dalam pertemuan tersebut. Catatan itu mulai dari konsistensi porsi makanan, kesesuaian cita rasa dengan selera jemaah Indonesia, hingga ketepatan waktu distribusi makanan kepada jemaah. Pemerintah meminta seluruh penyedia katering meningkatkan standar pelayanan agar kebutuhan konsumsi jemaah benar-benar terpenuhi.
Para penyedia katering diminta mematuhi sejumlah parameter baku dalam menyediakan konsumsi jemaah, di antaranya ketepatan porsi atau gramasi, keamanan makanan, serta kelancaran sirkulasi distribusi. Pemerintah menegaskan bahwa kualitas layanan tersebut tidak hanya harus dipertahankan, tetapi juga perlu ditingkatkan untuk menyambut kedatangan jemaah gelombang kedua.
Selain menjaga kualitas menu, penyedia katering juga diminta memastikan keamanan pangan serta kebersihan proses produksi, mulai dari pengolahan hingga pendistribusian makanan. Aspek kebersihan dan keamanan pangan menjadi fokus utama agar makanan yang sampai ke tangan jemaah benar-benar layak dan aman untuk dikonsumsi selama menjalankan ibadah.
Untuk memastikan hal tersebut, Kementerian Haji dan Umrah melakukan inspeksi mendadak ke dapur-dapur penyedia katering jemaah. Dalam sidak tersebut, Menteri Haji Mochamad Irfan Yusuf memeriksa secara menyeluruh proses penyiapan makanan, mulai dari penyimpanan bahan baku, pengolahan di dapur, hingga tahap pengemasan dan distribusi makanan ke hotel jemaah.
Penggunaan bumbu dan bahan baku asal Indonesia turut menjadi perhatian khusus dalam penyajian menu konsumsi jemaah, mulai dari beras, kerupuk, hingga ikan patin dan bahan lainnya. Melalui pengecekan terhadap sebagian dapur yang ada, pemerintah ingin memastikan para penyedia katering memasak dan melayani jemaah dengan baik, bersih, dan sehat, sekaligus memaksimalkan pemanfaatan bahan baku dari tanah air.
