Sejumlah kerusakan terjadi akibat gempa bermagnitudo 6,7 yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah. Guncangan gempa merusak sejumlah bangunan, baik fasilitas umum seperti rumah ibadah maupun rumah warga di wilayah tersebut.
Gempa terjadi pada Selasa siang, dengan episentrum berada di darat sekitar 42 kilometer tenggara Palu pada kedalaman 10 kilometer. Menurut Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, gempa ini tergolong gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif, yakni sesar Sausu di Sulawesi Tengah, dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault, dan guncangannya turut dirasakan di sejumlah wilayah lain.
Jumlah bangunan terdampak terus bertambah seiring pendataan. Awalnya 138 unit rumah dilaporkan rusak, namun menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah setidaknya 841 rumah mengalami kerusakan, dan angka itu masih bisa bertambah saat tim asesmen menjangkau desa-desa yang lebih terpencil. Kerusakan tersebar di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Poso.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menyebutkan lima desa terdampak gempa, dan kebutuhan darurat bagi warga terdampak juga telah diidentifikasi. Pendataan masih berlangsung untuk memastikan cakupan kerusakan secara menyeluruh.
Dari sisi korban, sebanyak 63 orang mengalami luka ringan dan 13 orang mengalami luka berat. Selain itu, satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat serangan jantung yang terjadi di tengah situasi gempa.
Guncangan sempat memicu kepanikan, antara lain di auditorium Universitas Tadulako yang saat itu tengah menggelar kegiatan perpisahan yang dihadiri siswa, guru, dan orang tua. Sejumlah guru bergegas mengarahkan para siswa untuk keluar karena plafon gedung mulai berjatuhan, dan seluruh peserta berhasil dievakuasi dengan selamat. Gempa juga membuat kantor Bupati Sigi mengalami kerusakan, dengan sebagian plafon bangunan ambruk dan berserakan di lantai.
Gempa turut merusak infrastruktur jalan. Ruas jalan di Kecamatan Palolo menuju Napu, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, dilaporkan mengalami kerusakan parah sehingga berpotensi mengganggu akses warga di wilayah itu.
Di RSUD Undata Palu, puluhan pasien memilih tetap bertahan di tenda darurat karena gempa susulan. Menurut pihak rumah sakit, sekitar dua jam setelah gempa, para pasien sempat diperbolehkan kembali ke gedung dan ruang rawat inap, namun gempa susulan membuat mereka memilih beristirahat dan menjalani perawatan di pelataran rumah sakit.
Langkah evakuasi keluar gedung dinilai menjadi opsi paling aman untuk menjamin keselamatan pasien dan tenaga medis dari risiko reruntuhan bangunan jika gempa susulan yang lebih besar kembali terjadi. Sementara itu, Pemerintah Kota Palu mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun tetap waspada.
