Rencana penyesuaian tarif layanan transportasi Transjabodetabek yang dijadwalkan berlaku pada Juni 2026 mendapat tanggapan beragam dari masyarakat. Menurut laporan tvOne News dari kawasan Stasiun Sudirman, Jakarta, sebagian penumpang menyatakan dukungan dengan sejumlah syarat, sementara sebagian lainnya menolak rencana kenaikan biaya tersebut. Saat ini tarif layanan masih berada di angka 3.500 rupiah, bahkan hanya 2.000 rupiah untuk perjalanan sebelum pukul enam pagi.
Salah satu warga yang ditemui, Yoga, mengaku tidak mempermasalahkan kenaikan tarif selama besarannya masih dalam batas wajar. Ia menilai penyesuaian yang bersifat standar, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu memberatkan para pekerja di Jakarta, masih bisa diterima. Bagi Yoga, hal terpenting adalah seberapa besar peningkatan layanan yang akan diberikan sebagai imbalan dari kenaikan tarif itu.
Yoga berharap kenaikan tarif diiringi dengan penambahan armada, terutama pada rute-rute yang memiliki banyak peminat dan sering digunakan warga sekitar Jakarta. Menurutnya, penambahan armada akan sangat membantu mobilitas sehari-hari para penumpang. Ia menegaskan akan tetap menggunakan layanan TransJakarta maupun KRL karena moda transportasi umum tersebut benar-benar membantu aktivitasnya.
Pandangan berbeda datang dari Dinda, seorang mahasiswa yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana kenaikan tarif. Ia menjelaskan bahwa uang saku mahasiswa tergolong terbatas, sehingga ia berharap tarif tidak dinaikkan dan tetap berada pada angka yang normal. Bagi kalangan pelajar dan mahasiswa, setiap kenaikan biaya transportasi dinilai cukup terasa terhadap pengeluaran harian mereka.
Jika kenaikan tetap diberlakukan, Dinda berharap besarannya disesuaikan dengan kemampuan kantong mahasiswa, di kisaran yang menurutnya terjangkau. Ia bahkan menyebut akan lebih memilih menggunakan sepeda motor karena dinilai lebih hemat, dengan pengisian bahan bakar sekitar 20.000 rupiah yang bisa dipakai selama dua hingga tiga hari. Pilihan ini menggambarkan bagaimana kenaikan tarif dapat menggeser preferensi sebagian pengguna transportasi umum.
Selain soal tarif, Dinda juga menyoroti aspek keselamatan dan ketertiban dalam layanan transportasi. Ia berharap para pengemudi dapat berkendara lebih tertib, mengingat masih banyak sopir yang dinilai ugal-ugalan dan kerap memicu insiden di jalan raya. Menurutnya, perbaikan perilaku berkendara sama pentingnya dengan persoalan besaran tarif yang dibebankan kepada penumpang.
Dari beragam tanggapan yang terkumpul, muncul harapan bersama agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak menaikkan tarif terlalu tinggi. Masyarakat berharap apabila penyesuaian tetap dilakukan, langkah itu diiringi dengan penambahan armada serta peningkatan kualitas layanan secara menyeluruh. Respons warga ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah sebelum kebijakan tarif baru benar-benar diterapkan pada bulan ini.
