LIVE PROTOCOL
EET--:--:-- edition--.--.--

Perlintasan kereta liar di Bekasi masih dijaga relawan tanpa pelatihan keselamatan

Perlintasan kereta liar di Bekasi masih dijaga relawan tanpa pelatihan keselamatan

Perlintasan kereta api liar di Jalan Gedung Walet, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, sudah puluhan tahun dijaga relawan secara swadaya tanpa pelatihan keselamatan. Mereka mengatur lalu lintas sambil menjaring rupiah dari pengendara, dan kini khawatir saat perlintasan akan diubah menjadi palang pintu otomatis.

Keberadaan perlintasan kereta api liar masih dapat dijumpai di sejumlah tempat di Indonesia. Salah satunya adalah perlintasan yang terletak di Jalan Gedung Walet, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Menurut laporan Metro TV, perlintasan ini dibuka sekitar tahun 1990 dan sejak saat itu operasionalnya dikendalikan secara swadaya oleh masyarakat sekitar, tanpa sistem palang pintu resmi.

Para relawan yang berjaga di perlintasan ini sudah puluhan tahun menjalankan tugasnya. Meski demikian, mereka mengaku belum pernah sekalipun dibekali pelatihan mengenai prosedur keselamatan dan keamanan di perlintasan. Buka tutup palang pintu hanya dilakukan dengan mengikuti perubahan sinyal lampu pada saat kereta akan melintas.

Sembari mengatur pergerakan kendaraan yang melintas, para relawan juga menjaring rupiah dari para pengendara. Mereka menuturkan bahwa saat kondisi sedang ramai, hasil yang terkumpul bisa mencapai sekitar dua ratus ribu rupiah, yang kemudian dibagi untuk tiga orang. Pemasukan inilah yang selama ini menjadi salah satu alasan mereka tetap menjaga perlintasan tersebut.

Karena itu, mereka mengaku khawatir ketika mendengar kabar bahwa perlintasan liar ini akan beralih rupa menjadi perlintasan resmi dengan palang pintu otomatis. Salah satu penjaga berharap, seandainya palang pintu otomatis sudah dipasang, tetap ada orang yang ditugaskan untuk berjaga, agar anak-anak muda setempat tidak benar-benar kehilangan pekerjaan, sekalipun tanpa upah.

Ia menegaskan bahwa pos penjagaan sebaiknya tidak dibiarkan kosong dan tetap dijaga, baik siang maupun malam, termasuk saat hujan dan angin. Kekhawatiran para relawan ini menggambarkan bagaimana perlintasan tersebut telah menjadi bagian dari penghidupan mereka sehari-hari selama bertahun-tahun dikelola secara swadaya.

Selama ini perlintasan liar tersebut digunakan oleh para pengendara kendaraan bermotor untuk menuju ke wilayah Kalibaru, Desa Mekarsari, kemudian melanjutkan ke Cikarang dan juga Kota Bekasi. Perlintasan ini dipilih karena dinilai dapat memangkas jarak dan waktu tempuh dibandingkan melewati jalur biasa yang memakan waktu lebih lama, terutama pada saat jam berangkat ataupun pulang kerja.

Kondisi ini memaksa para relawan penjaga perlintasan untuk bergerak cepat dan tetap fokus mengatur arus kendaraan sambil mengawasi kereta yang akan melintas, sebab jika lengah sedikit saja, nyawa para pengendara motor yang menjadi taruhannya. Berdasarkan dokumen perjalanan kereta yang diterima para relawan pada tahun 2025, terdapat lebih dari tiga ratus perjalanan kereta yang melintas di perlintasan ini setiap harinya. Tidak jauh dari Jalan Gedung Walet, sebuah perlintasan liar lain di Jalan Yaping, Tambun Selatan, juga ramai dilintasi pengendara.

Loading article...