Kementerian Pertahanan menyebutkan jumlah calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih atau KDMP yang meninggal dunia saat mengikuti kegiatan latihan dasar militer atau Latsarmil bertambah menjadi lima orang. Para korban merupakan peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia atau SPPI yang disiapkan untuk mengelola koperasi tersebut. Menurut keterangan pihak berwenang, para korban gugur akibat kondisi medis seperti stroke dan henti jantung saat menjalani pelatihan. Jatuhnya korban jiwa menjadi sorotan tajam karena terjadi di tengah pelaksanaan program yang sedang berjalan.
Korban pertama yang meninggal dunia adalah Anissa Muyasaroh, peserta yang mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI Mulawarman di Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia disebut mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni lalu sebelum akhirnya meninggal dunia. Komando Daerah Militer atau Kodam VI Mulawarman mengonfirmasi meninggalnya Anissa Muyasaroh, yang merupakan peserta yang dikirim dari Jawa Timur untuk mengikuti pelatihan tersebut. Belakangan, Kodam VI Mulawarman memastikan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan medis, penyebab kematian Anissa Muyasaroh adalah serangan panas berat atau heat stroke yang dialaminya saat mengikuti latihan, sehingga menimbulkan komplikasi organ yang tidak dapat tertolong. Sebelum korban dinyatakan meninggal, tim medis lapangan disebut sejak awal telah memberikan pertolongan cepat, termasuk merujuk dan memberikan perawatan intensif di Rumah Sakit Tentara Dr. Haryanto, Balikpapan.
Korban kedua adalah Yunanda Muhammad Taufik, peserta yang mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Sumatera Selatan. Ia disebut mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni lalu. Lokasi pelatihan yang berbeda menunjukkan bahwa para peserta tersebar di sejumlah pusat pendidikan militer di berbagai wilayah, mulai dari Kalimantan Timur hingga Sumatera Selatan, dalam rangkaian program pelatihan yang sama.
Korban ketiga yang sempat teridentifikasi adalah Novia Rahmadani Sihotang asal Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara, yang dilaporkan meninggal dunia pada Selasa, 23 Juni. Jenazahnya telah tiba di kampung halaman dan disambut isak tangis keluarga. Belakangan, Kementerian Pertahanan menyebutkan jumlah korban meninggal bertambah menjadi lima orang, sehingga terdapat dua korban tambahan di luar tiga peserta yang identitasnya telah diumumkan sebelumnya. Meninggalnya para peserta dalam rentang waktu yang relatif berdekatan ini memunculkan pertanyaan tajam mengenai kondisi kesehatan para peserta dan pengawasan medis yang berlangsung selama pelatihan diselenggarakan. Pihak berwenang menyatakan kronologi dan penyebab meninggalnya para korban masih terus ditelusuri seiring berjalannya evaluasi atas insiden tersebut.
Pihak terkait disebut masih melakukan investigasi internal untuk menemukan penyebab pasti meninggalnya para peserta tersebut. Penanganan dan evaluasi atas insiden itu disebut akan dilakukan oleh pihak yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hingga kini, penyebab pasti dari meninggalnya para peserta belum diumumkan secara resmi dan menyeluruh, dan hasil penyelidikan masih ditunggu oleh berbagai pihak yang menyoroti kejadian ini.
Program Latsarmil yang diikuti para korban merupakan pelatihan komponen cadangan yang dilaksanakan selama 45 hari di 67 satuan TNI di seluruh Indonesia, dengan total peserta mencapai 35.476 orang. Pihak penyelenggara menyampaikan permohonan maaf atas musibah ini dan menegaskan bahwa seluruh peserta telah dinyatakan memenuhi syarat setelah menjalani serangkaian tes kesehatan, mulai dari pemeriksaan fisik, laboratorium darah dan urin, radiologi, hingga rekam jantung atau elektrokardiogram, serta tes mental dan kerohanian. Menteri Koperasi Ferry Juliantono dan Kantor Staf Presiden disebut turut mengawal kelanjutan program Koperasi Merah Putih yang merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Meski insiden tersebut menimbulkan keprihatinan, pihak terkait menegaskan bahwa kejadian ini tidak akan menghentikan kelanjutan program. Pemerintah menyatakan tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek penyelenggaraan, mulai dari mekanisme seleksi kesehatan, standar pengawasan medis selama pelatihan, prosedur penanganan peserta dengan kondisi kesehatan khusus, hingga sistem komunikasi dan pelaporan. Salah satu hal yang turut menjadi sorotan adalah perlunya meninjau ulang intensitas skema pelatihan militeristik bagi para calon pengelola koperasi desa, mengingat muncul pertanyaan mengenai seberapa mendesak pelatihan militer diberikan kepada seorang manajer koperasi.
Rangkaian insiden ini turut memunculkan sorotan mengenai perlunya kehadiran negara melalui penegakan hukum dan penjagaan yang lebih efektif agar korban tidak terus berjatuhan. Banyak pihak menanti hasil investigasi internal sekaligus langkah konkret pemerintah dalam mengevaluasi pelaksanaan latihan dasar militer bagi para peserta SPPI. Transparansi atas penyebab kematian dinilai penting untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali.
