Pihak kepolisian menangkap tiga terduga pelaku dan masih memburu satu orang lainnya yang terkait dengan pembunuhan seorang sopir truk bernama Heri Supriyadi. Korban diduga dihabisi oleh rekan seperjalanannya sendiri dalam upaya menguasai muatan bernilai besar yang sedang diangkut dalam sebuah perjalanan logistik lintas provinsi di Pulau Sumatra.
Perjalanan itu mengangkut muatan minyak goreng sekitar 20 ton melalui jalur darat Sumatra. Di dalam truk terdapat dua kru, yakni sopir utama berinisial FG dan sopir kedua, Heri Supriyadi. Bagi sopir jarak jauh, kabin truk bukan sekadar ruang kemudi, melainkan tempat mereka bekerja, beristirahat, dan bergantian menjaga perjalanan dengan saling mengandalkan satu sama lain.
Menurut polisi, persoalan bermula ketika muncul rencana untuk menguasai muatan tersebut. Heri Supriyadi, yang mengetahui rute, muatan, sekaligus tanggung jawab pengiriman, disebut menolak rencana itu. Penolakannya itulah yang diduga membuatnya berubah dari rekan seperjalanan menjadi penghalang bagi niat jahat yang tengah disusun.
Setelah rencananya ditolak, FG diduga tidak bergerak sendirian. Polisi menyebut ia mengajak beberapa orang lain untuk menjalankan aksi, dan dari penyelidikan kemudian muncul sejumlah nama. Para pelaku diduga ingin membuat peristiwa itu seolah-olah merupakan aksi perampokan, sebelum akhirnya Heri Supriyadi ditemukan sudah tidak bernyawa di ruang istirahat di belakang bangku sopir.
Kasus ini mulai terbongkar dari pergerakan truk itu sendiri. Pihak ekspedisi melihat kendaraan keluar dari rute yang seharusnya, sempat berada di wilayah Riau, dan berhenti cukup lama di titik yang tidak semestinya. Kecurigaan itu membuat pihak ekspedisi bersama kepolisian menelusuri titik GPS hingga ke kawasan Jalan SM Amin, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru, tempat truk ditemukan terparkir di sebuah area pool atau bengkel.
Dari hasil pengejaran lintas wilayah, polisi mengamankan sejumlah terduga pelaku. FG ditangkap di wilayah Sumatera Utara, ZN yang disebut terlibat dalam eksekusi juga diamankan di Sumatera Utara, sementara AS yang disebut ikut membantu jalannya aksi ditangkap di Mandau, Riau. Satu nama lagi, yakni AN, hingga kini masih berstatus daftar pencarian orang dan disebut terkait dengan penyediaan fasilitas serta peralatan dalam rencana kejahatan tersebut.
Polisi menegaskan bahwa pengungkapan kasus belum sepenuhnya selesai sampai seluruh pelaku mempertanggungjawabkan perannya masing-masing, dan saat ini penyidik tengah mengurai peran tiap orang yang terlibat. Kasus ini sekaligus menjadi gambaran risiko yang kerap dihadapi para sopir angkutan jarak jauh, yang menempuh ratusan hingga ribuan kilometer dengan membawa muatan bernilai besar.
