world | Metro TV |
Warga negara Indonesia yang menjadi relawan Global South Flotilla mengungkapkan perlakuan keji selama ditahan militer Israel, termasuk pemukulan, setrum, dan dikurung dalam kontainer selama dua hari. Kementerian Luar Negeri Indonesia mengoordinasikan pembebasan mereka.
Warga negara Indonesia yang tergabung sebagai relawan Global South Flotilla mengungkapkan kesaksian mengejutkan tentang perlakuan yang mereka terima selama ditahan oleh militer Israel. Para relawan yang kapalnya di-intercept di perairan internasional menyampaikan bahwa mereka mengalami pemukulan, tendangan, setrum, dan berbagai bentuk penghinaan.
Salah satu relawan menceritakan bahwa setelah tentara Israel naik ke kapal mereka, para penumpang langsung diikat dan dimasukkan ke bawah dek dalam kondisi membungkuk. Mereka kemudian dipindahkan ke kapal penjara perang dan dimasukkan dalam kontainer selama dua hari, di mana mereka harus berendam dalam air, tidur di tempat basah, dan terus mendapatkan perlakuan kasar.
Beberapa relawan juga melaporkan adanya penembakan, pelemparan granat kejut, dan penyiraman air sebagai bentuk intimidasi. Luka-luka yang diderita para korban cukup parah. Informasi awal menyebutkan ada lima WNI yang ditangkap, kemudian bertambah menjadi tujuh, dan akhirnya sembilan orang secara total.
Kementerian Luar Negeri Indonesia segera melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan kedutaan-kedutaan Indonesia di kawasan tersebut. Menteri Luar Negeri langsung menghubungi perwakilan Indonesia di Yordania untuk memfasilitasi komunikasi dan upaya pembebasan para WNI yang ditahan.
Peristiwa ini menuai kecaman dari berbagai negara termasuk Italia, Belanda, dan Prancis yang mengutuk keras perlakuan Israel terhadap para aktivis kemanusiaan internasional. Menteri Keamanan Nasional Israel bahkan memposting video yang memperlihatkan para tahanan dipaksa berlutut dengan tangan terikat ke belakang, sebagaimana dilaporkan oleh Metro TV.