Ketegangan di perbatasan Lebanon dan Israel semakin meningkat setelah pasukan militer Israel berhasil memasuki wilayah Lebanon Selatan dan menguasai Kastil Beaufort, sebuah benteng bersejarah yang memiliki nilai strategis penting. Di tengah perkembangan yang mengkhawatirkan ini, seorang warga negara Indonesia yang bermukim di Lebanon, Tia Gustiasi, memberikan kesaksian langsung mengenai kondisi di lapangan.
Menurut Tia yang tinggal di kota Tripoli di wilayah utara Lebanon, penjagaan keamanan di seluruh negeri sangat ketat selama satu bulan terakhir. Di setiap perbatasan antar wilayah terdapat banyak tentara Lebanon yang melakukan pemeriksaan surat-surat resmi bagi siapa saja yang ingin berpergian ke tempat-tempat tertentu. Pemerintah Lebanon menghimbau seluruh warga untuk menjauhi wilayah-wilayah perang dan tidak berkumpul di tempat-tempat yang dianggap rawan.
Di wilayah Lebanon Selatan, kondisinya jauh lebih parah. Tia mengungkapkan bahwa hampir tidak ada warga yang tersisa di sana, meskipun masih ada segelintir orang yang memutuskan untuk tetap bertahan. Lebih dari sepuluh desa di kawasan selatan dilaporkan sudah rata dengan tanah akibat serangan militer yang terus berlangsung, meninggalkan pemandangan kehancuran yang sangat memilukan.
Penguasaan Kastil Beaufort oleh Israel menambah kekhawatiran warga Lebanon dan komunitas asing yang tinggal di negara tersebut. Tia menyampaikan rasa takut yang dirasakan banyak orang bahwa operasi militer Israel dapat meluas tidak hanya di wilayah selatan, tetapi juga merambah ke wilayah-wilayah lainnya di Lebanon. Ketidakpastian ini menciptakan suasana yang sangat menekan bagi seluruh penduduk.
Untuk wilayah utara Lebanon termasuk Tripoli tempat Tia bermukim, aktivitas sehari-hari untuk sementara masih berjalan relatif normal. Namun sekolah-sekolah sudah ditutup dan perekonomian semakin sulit. Harga kebutuhan pokok termasuk sandang dan pangan terus melonjak, sementara obat-obatan dan bahan bakar menjadi sangat mahal dan sulit dijangkau oleh masyarakat biasa.
Tia menjelaskan bahwa dampak perang terasa di semua aspek kehidupan masyarakat Lebanon. Dari keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan hingga melambungnya biaya transportasi, konflik yang berkepanjangan telah menggerus daya beli dan kualitas hidup warga secara signifikan. Situasi ini diperburuk oleh krisis ekonomi yang sudah melanda Lebanon sebelum eskalasi konflik terkini.
Mengenai sikap otoritas Lebanon, Tia mengakui bahwa pemerintah tidak memiliki kekuatan militer yang memadai untuk menghadapi operasi Israel secara mandiri. Pemerintah Lebanon meminta bantuan dari negara-negara lain untuk meminimalisir dampak konflik, namun gencatan senjata yang diumumkan tidak membawa perubahan berarti di lapangan. Di wilayah selatan, serangan militer justru semakin intensif dan skala perang terus membesar.
