Sebuah fenomena aneh menimpa rumah milik warga Kasuran, Segan, Sleman, Yogyakarta, di mana rentetan kebakaran terjadi secara misterius selama sepekan terakhir. Hinggil Muftiana, sang pemilik rumah, kebingungan dengan sedikitnya 50 kali kemunculan titik api yang membakar berbagai perabot rumah tangganya termasuk sofa, kasur, hingga peralatan rumah tangga lainnya.
Dalam dua hari saja, terjadi sedikitnya 11 kali kebakaran di dalam rumah. Api muncul secara tiba-tiba tanpa sumber yang jelas, membuat pemilik rumah ketakutan hingga tidak tidur selama dua malam. Ia terpaksa mengevakuasi barang-barang ke tempat yang lebih aman sambil terus memantau kemunculan api berikutnya.
Tim Gegana Satbrimob Polda Daerah Istimewa Yogyakarta diterjunkan ke lokasi untuk menyelidiki kasus tersebut. Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, petugas menemukan bahwa pemicu rentetan kebakaran berasal dari bocornya gas metana dari sepiteng yang saluran pembuangan gasnya tidak memenuhi standar.
Menurut penjelasan petugas, kebocoran terjadi karena limbah rumah tangga yang dialirkan melalui pipa ke instalasi pembuangan mengalami kebocoran. Gas metana yang bersifat mudah terbakar dapat meresap melalui rongga-rongga di dalam struktur rumah, sehingga api muncul di berbagai titik yang berbeda di lantai atas bangunan.
Tidak hanya polisi, tim ahli dari Universitas Gadjah Mada dan UPN Veteran Yogyakarta juga dikerahkan untuk membantu investigasi. Basuki Rahmat, ahli geologi sekaligus dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi UPN Veteran, mengkonfirmasi indikasi kuat bahwa gas metana adalah penyebab utama kebakaran misterius tersebut.
Tim ahli menemukan bahwa gas metana memang terdeteksi di area sekitar rumah, khususnya di bawah jembatan Nepen yang berada di dekat lokasi. Ketika dilakukan pengecekan secara manual menggunakan paralon, gas langsung menyembur dari bawah permukaan air setelah paralon dicabut, membuktikan adanya akumulasi gas yang signifikan di bawah tanah.
Tim ahli UGM dan UPN merekomendasikan agar lantai satu rumah dikosongkan selama satu bulan sambil menunggu proses dekomposisi gas metana yang masih terperangkap di dalam struktur bangunan. Kasus ini menjadi pengingat akan potensi bahaya dari instalasi limbah rumah tangga yang tidak memenuhi standar keselamatan, terutama terkait pengelolaan gas yang dihasilkan oleh proses dekomposisi biologis.
