Mengapa 'destination dupe' dan wisata konser mengambil alih panggung utama tren perjalanan 2025, meninggalkan era 'revenge travel' yang membara di 2023.
Angin bertiup berbeda tahun ini. Setelah beberapa tahun di mana dunia seolah berlomba untuk 'membalas dendam' atas kehilangan waktu yang hilang, gelombang 'revenge travel' yang sempat mengguncang industri pariwisata kini mulai mereda secara drastis.
Data dari berbagai sumber menunjukkan pergeseran pola yang jelas. Wisatawan tidak lagi sekadar mencari tempat eksotis untuk membuktikan bahwa mereka bisa pergi ke mana saja. Ada pergeseran halus tapi signifikan menuju pengalaman yang lebih terstruktur, lebih hemat, dan lebih personal.
Dari Dendam ke Rasa Syukur
Kompas.com mencatat bahwa tren 'revenge travel' turun drastis pada 2024. Ini bukan berarti orang berhenti bepergian, melainkan cara mereka bepergian berubah. Dulu, urgensi untuk pergi ke mana pun adalah pendorong utama. Sekarang, motivasi itu telah berevolusi menjadi pencarian makna dan keseimbangan.
Perjalanan kini dilihat sebagai bagian dari ritme hidup yang sehat, bukan sebagai ekspresi emosi pasca-pandemi. Orang lebih memilih waktu yang tepat dan pengalaman yang benar-benar mereka nantikan, bukan sekadar kebetulan atau impuls sesaat.

Pintu Masuk ke 2025
BBC merangkum tujuh tren perjalanan yang akan mendominasi sepanjang 2025. Di antara berbagai prediksi tersebut, dua konsep muncul sebagai penguasa baru: 'destination dupe' dan wisata konser.
Keduanya mewakili pergeseran dari 'ke mana' ke 'apa yang bisa dilakukan di sana'. Wisatawan modern ingin nilai maksimal, baik secara estetika maupun pengalaman, tanpa harus membayar harga premium yang biasanya melekat pada destinasi utama.

Seni Meniru yang Elegan
'Destination dupe' adalah istilah yang merujuk pada destinasi yang menawarkan suasana, arsitektur, atau pengalaman serupa dengan tempat populer, tapi dengan biaya yang jauh lebih terjangkau. Konsep ini dipopulerkan oleh Republika.id sebagai salah satu tren utama 2024 yang kini semakin kuat di 2025.
Bayangkan sensasi berdiri di tengah kota yang terasa seperti Paris atau Amsterdam, tapi dengan biaya hidup yang mungkin hanya seperlima. Ini bukan soal penghematan murahan, melainkan soal cerdas memilih tempat. Wisatawan ingin estetika kelas dunia tanpa harus menguras dompet atau menghadapi kerumunan yang melelahkan.
Strategi ini mengubah cara kita memandang peta. Bukan lagi soal tujuan yang paling terkenal, tapi tentang menemukan 'kembaran' yang menawarkan pengalaman autentik dengan harga yang masuk akal.

Musik sebagai Kompas
Di sisi lain, wisata konser menjadi pendorong perjalanan yang tak terbantahkan. Republika.id juga menyoroti fenomena ini, di mana tiket konser menjadi alasan utama seseorang memilih suatu kota sebagai tujuan liburan.
Ini mengubah logika perencanaan. Dulu, orang memilih destinasi lalu mencari aktivitas di sana. Sekarang, jadwal artis atau festival menentukan segalanya. Kota-kota yang mampu menjadi tuan rumah pertunjukan besar mendadak menjadi magnet bagi wisatawan yang datang bukan untuk sightseeing klasik, tapi untuk satu malam yang tak terlupakan.
Kecerdasan dalam Anggaran
Jatimnet.com menambahkan dimensi praktis dengan membahas cara merencanakan liburan singkat dengan budget terbatas. Ini sejalan dengan tren 'destination dupe'. Wisatawan 2025 adalah wisatawan yang kalkulatif.
Mereka tidak takut bepergian, tapi mereka takut membuang uang dengan sia-sia. Promo seperti B1G1 yang dibahas Tribun Travel menjadi contoh bagaimana industri pariwisata harus beradaptasi dengan permintaan nilai yang lebih tinggi. Hemat bukan lagi pilihan, tapi ekspektasi.
Masa Depan Perjalanan
Gabungan dari semua tren ini menggambarkan satu hal: perjalanan 2025 adalah tentang kesengajaan. Wisatawan tidak lagi terburu-buru atau terdorong emosi. Mereka memilih dengan sadar, berdasarkan nilai, pengalaman, dan kecocokan dengan gaya hidup mereka.
Jadi, kalau Anda sedang merencanakan liburan berikutnya, jangan cuma tanya 'ke mana?'. Tanyakan 'untuk apa?' dan 'apa yang saya dapat dari sana?'. Itu yang membedakan perjalanan biasa dari perjalanan yang benar-benar berarti.
Pertanyaan umum

Keep subscribing to Intan PermataHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
