Pertamina NRE dan InJourney meluncurkan program wisata carbon neutral di Candi Borobudur pada 5 Oktober 2026. Wisatawan bisa berkontribusi sukarela Rp 6.000 untuk offset emisi.
Rp 6.000. Nominal yang sekecil itu kini menjadi pintu masuk ke salah satu upaya paling ambisius di sektor pariwisata Indonesia. Pada Senin, 5 Oktober 2026, PT Pertamina New & Renewable Energy bersama InJourney Destination Management resmi meluncurkan konsep wisata carbon neutral di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ini adalah proyek percontohan pertama di Indonesia yang secara eksplisit membangun ekosistem pariwisata rendah karbon.
Angka enam ribu rupiah ini mungkin terdengar sangat kecil jika dibandingkan dengan harga tiket masuk atau biaya transportasi menuju Magelang. Namun, dalam konteks ekonomi karbon, nominal ini memiliki bobot yang signifikan. Program ini dirancang agar setiap wisatawan dapat berpartisipasi aktif tanpa membebani anggaran perjalanan mereka. Dengan menyisipkan angka kecil ini ke dalam transaksi utama, barier psikologis untuk peduli terhadap lingkungan menjadi jauh lebih rendah dan mudah dijangkau oleh semua kalangan.
Peluncuran pada 5 Oktober 2026 menjadi momentum penting bagi industri perhotelan dan transportasi di sekitar candi. Kolaborasi antara PT Pertamina New & Renewable Energy dan InJourney Destination Management menunjukkan sinergi yang kuat antara sektor energi terbarukan dan manajemen destinasi. Keduanya bekerja sama untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang terkumpul benar benar dialokasikan ke proyek yang terukur dan berdampak nyata, bukan sekadar angka di atas kertas.
Kawasan Kabupaten Magelang dipilih sebagai lokasi strategis karena letaknya yang ideal dan infrastruktur pendukung yang sudah matang. Candi Borobudur bukan hanya sebuah tumpukan batu tua, melainkan pusat gravitasi budaya dan ekonomi yang hidup setiap hari. Dengan jutaan pengunjung yang datang silih berganti, setiap keputusan kecil yang diambil di sini akan menciptakan efek domino yang masif terhadap perilaku wisatawan di seluruh Indonesia.
Program ini bukan sekadar lip service lingkungan atau gawai pemasaran sesaat. Wisatawan yang membeli tiket masuk kini diberikan pilihan untuk menyisipkan kontribusi sukarela senilai Rp 6.000. Dana tersebut akan dikonversi menjadi kredit karbon yang dihasilkan dari pembangkit energi ramah lingkungan serta solusi berbasis alam, seperti aksi konservasi dan penghijauan hutan. Di tengah target Net Zero Emission (NZE) 2060, langkah kecil ini menjadi panggung nyata bagi masyarakat untuk ikut serta.
Konversi dana menjadi kredit karbon ini dilakukan melalui mekanisme yang transparan dan dapat diaudit. Setiap rupiah yang disumbangkan memiliki jejak digital yang melacak ke mana dana tersebut berujung. Ini memberikan rasa aman bagi wisatawan bahwa kontribusi mereka benar benar digunakan untuk tujuan yang baik, seperti penanaman pohon atau dukungan terhadap instalasi panel surya di fasilitas umum sekitar kawasan wisata.
Mekanisme Kontribusi dan Kredit Karbon
John Anis, Direktur Utama PT Pertamina New & Renewable Energy, menjelaskan bahwa kontribusi ini memberikan ruang nyata bagi masyarakat umum. Ia menekankan bahwa partisipasi sukarela adalah inti dari program ini. Masyarakat tidak dipaksa, tetapi diberi pilihan untuk menjadi agen perubahan. Dengan cara ini, kesadaran lingkungan ditanamkan melalui pengalaman langsung, bukan melalui ceramah atau kampanye yang abstrak.
Kredit karbon yang dihasilkan dari dana Rp 6.000 tersebut berasal dari dua sumber utama. Pertama, dari pembangkit energi ramah lingkungan yang dikelola oleh Pertamina New & Renewable Energy. Kedua, dari solusi berbasis alam seperti aksi konservasi dan penghijauan hutan di sekitar wilayah Magelang. Kombinasi kedua sumber ini memastikan bahwa offset karbon yang dilakukan memiliki dasar ilmiah yang kuat dan tidak hanya sekadar klaim tanpa bukti.
Solusi berbasis alam menjadi komponen krusial dalam ekosistem ini. Hutan di sekitar Borobudur memiliki peran vital dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Dengan mengalokasikan sebagian dana kontribusi untuk penghijauan, program ini tidak hanya mengoffset emisi dari aktivitas wisata, tetapi juga meningkatkan kapasitas penyerapan karbon di masa depan. Ini adalah pendekatan proaktif yang melampaui sekadar kompensasi.
Pembangunan ekosistem pariwisata rendah karbon ini juga melibatkan edukasi terhadap staf pengelola wisata. Mereka dilatih untuk menjelaskan mekanisme kontribusi ini kepada setiap wisatawan yang datang. Dengan demikian, interaksi antara pemandu wisata dan pengunjung menjadi momen pembelajaran tentang pentingnya mengurangi jejak karbon. Pengetahuan ini kemudian dibawa pulang oleh wisatawan dan disebarkan ke lingkaran sosial mereka masing masing.
Efek domino dari program ini diharapkan tidak hanya berhenti di Candi Borobudur. Sebagai pilot project, keberhasilan di sini akan menjadi cetak biru bagi destinasi wisata super prioritas lainnya di Indonesia. Jika model ini terbukti efektif dalam mengubah perilaku wisatawan dan mengurangi emisi, maka replikasi ke tempat lain akan menjadi langkah logis berikutnya. Indonesia sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin dalam wisata berkelanjutan di Asia Tenggara.
Peran InJourney Destination Management dalam memastikan pengalaman wisatawan tetap prima tidak bisa diabaikan. Mereka memastikan bahwa proses kontribusi Rp 6.000 ini terintegrasi dengan mulus ke dalam alur pemesanan tiket. Tidak ada kerumitan administratif yang membingungkan. Cukup satu klik atau satu pilihan saat checkout, dan kontribusi sudah tercatat. Kemudahan ini adalah kunci untuk mendapatkan partisipasi massal dari jutaan pengunjung tahunan.



Pertanyaan umum

Keep subscribing to Lasmini RahayuHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
