Fenomena pulau sampah yang muncul di pesisir Jakarta, termasuk di perairan Muara Angke, sempat menjadi sorotan setelah viral di media sosial. Tumpukan sampah yang menutupi kawasan pesisir itu tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga langsung berdampak pada kehidupan warga, terutama para nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil laut.
Bagi nelayan setempat, sampah yang terus mengganggu membuat alat tangkap seperti bubu kerap terkena sampah, sehingga penghasilan yang mereka peroleh menjadi sangat minim. Mereka berharap krisis sampah ini segera ditanggulangi, termasuk dengan pengerukan, agar akses keluar masuk nelayan kembali berjalan lancar dan kondisi di kawasan itu bisa normal kembali.
Pengamat lingkungan Profesor Arief Sumantri menilai fenomena pulau sampah ini sebenarnya menjadi sinyal dari krisis lingkungan yang jauh lebih besar. Menurutnya, risiko pencemaran oleh sampah terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar sungai sangat tinggi dan berpotensi menimbulkan bahaya antropogenik bagi warga di sekitarnya.
Ia juga menyoroti kondisi permukiman di kawasan Penjaringan yang dinilai belum memenuhi kriteria rumah sehat. Warga masih menggunakan air sungai untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus, sementara kebiasaan membuang air besar di sungai atau laut serta limbah cair yang tidak terkelola turut memperburuk keadaan. Kondisi ini disebut sebagai lingkaran setan yang harus diputus mulai dari hulu.
Di wilayah Muara Angke, tumpukan sampah juga dinilai berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, salah satunya infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Kurangnya pengetahuan dan belum utuhnya edukasi, ditambah tidak adanya perilaku preventif, dinilai dapat memperburuk kerentanan warga terhadap penyakit yang berkaitan dengan pernapasan.
Viralnya pulau sampah di pesisir Jakarta membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bergerak cepat. Sampah yang sempat menutupi kawasan pesisir, termasuk di perairan Muara Angke, dilaporkan telah selesai dibersihkan oleh pihak terkait.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut kawasan Muara Angke sebagai salah satu titik penting karena menjadi muara dari sedikitnya 13 sungai yang mengalir ke teluk, sehingga rawan terjadi penumpukan sampah sekaligus endapan lumpur. Menurutnya, kondisi ini memiliki sisi positif karena sampah tidak terdorong hingga ke Kepulauan Seribu, namun juga memiliki sisi negatif karena bila tidak dibersihkan secara rutin, kawasan itu kembali berpotensi menjadi pulau sampah seperti sebelumnya.
