Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa. Guncangan terjadi sekitar pukul 10.27 Waktu Indonesia Barat dan dirasakan di sejumlah wilayah, membuat warga panik dan berhamburan menyelamatkan diri. Sejumlah rumah dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan tersebut.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tektonik bermagnitudo 6,7 itu berpusat di darat. Episentrum berada sekitar 42 kilometer arah Tenggara Kota Palu, dengan kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan.
Dengan kedalaman yang relatif dangkal, gempa ini tergolong gempa bumi dangkal. BMKG menyebut gempa dipicu oleh aktivitas sesar aktif, dengan hasil analisis menunjukkan mekanisme pergerakan berupa sesar turun atau oblik normal.
Guncangan dirasakan dengan kekuatan yang berbeda-beda di berbagai daerah. Intensitas tertinggi mencapai 7 MMI di wilayah Palolo dan Sigi, sementara di Sigi Biromaru dan Kota Palu guncangan terasa pada skala 5 hingga 6 MMI, dan pada kisaran 4 hingga 5 MMI di wilayah Donggala serta Pasangkayu.
Setelah guncangan utama, aktivitas kegempaan masih berlanjut. BMKG mencatat sebanyak sembilan kali gempa susulan, dengan magnitudo terbesar 5,1 yang terjadi sekitar pukul 11.20 WIB. Warga pun diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan guncangan lanjutan.
Meski berkekuatan cukup besar dan berpusat tidak jauh dari kota, BMKG memastikan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Penegasan tersebut disampaikan untuk meredakan kekhawatiran warga, terutama di wilayah pesisir Sulawesi Tengah.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, serta hanya berpegang pada informasi resmi melalui kanal komunikasi yang telah terverifikasi. Rekaman video amatir memperlihatkan kepanikan warga, sementara situasi dan dampak kerusakan masih terus dipantau.
Dampak guncangan juga terlihat pada sejumlah bangunan dan kegiatan warga. Kantor Bupati Kabupaten Sigi mengalami kerusakan, dengan sebagian plafon bangunan ambruk dan berserakan di lantai, sebagaimana terekam dalam gambar amatir yang beredar di media sosial. Di Kota Palu, gempa terjadi saat berlangsung kegiatan perpisahan sekolah dasar IT Al-Fahmi di Auditorium Universitas Tadulako, yang membuat siswa, guru, dan orang tua panik. Seluruh peserta disebut berhasil dievakuasi dengan selamat tanpa korban luka di lokasi, dan panitia akhirnya memutuskan mengakhiri kegiatan lebih awal.
Selain kerusakan, gempa juga sempat memunculkan kekhawatiran tambahan di kalangan warga pesisir. Rekaman yang memperlihatkan air laut di Pantai Dupa, Kabupaten Donggala, tampak surut beredar luas di media sosial seusai gempa. Kondisi pesisir yang terlihat berbeda dari biasanya itu menimbulkan kekhawatiran sebagian warga, kendati BMKG telah memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Bagi warga Palu, gempa kali ini membangkitkan kembali ingatan akan bencana besar yang pernah menerjang wilayah mereka. Pada 28 September 2018, Palu dilanda gempa kuat yang disertai tsunami dan likuifaksi, sehingga banyak warga kini bersikap jauh lebih waspada terhadap setiap guncangan dan gempa susulan.
Belajar dari pengalaman 2018, warga di wilayah Palu Selatan disebut telah lebih siap menghadapi situasi darurat. Pantauan di lapangan menunjukkan banyak warga sengaja membuka pagar rumah, memarkir kendaraan di luar, serta menyiapkan tas berisi barang-barang penting agar dapat segera menyelamatkan diri ke tempat aman jika terjadi gempa susulan.
