Membedah fenomena 'Destination Dupe' yang mengubah cara kita memilih destinasi wisata di 2025.
Coba bayangkan duduk di sudut kafe kecil yang remang, aroma kopi single origin menggantung di udara, ditemani dinding bata ekspos yang penuh karakter. Rasanya familiar, bukan? Anda mungkin sedang di sudut tersembunyi Jakarta, tapi secara visual, Anda sedang meniru atmosfer kafe legendaris di Paris atau New York.
Ini bukan kebetulan. Ia mencerminkan pergeseran besar dalam cara wisatawan, khususnya di Asia Tenggara, memilih pengalaman perjalanan. Istilah 'destination dupe' atau destinasi tiruan kini menjadi kata kunci yang mengubah lanskap industri pariwisata secara signifikan.
Laporan Kemenpar yang merangkum survei para ahli menunjukkan pertumbuhan solid sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pada 2024. Pertumbuhan ini tidak lagi didorong hanya oleh destinasi alam megah, melainkan oleh pengalaman kultural dan estetika yang bisa direplikasi di mana saja.
Fenomena Tiruan yang Mengubah Peta Wisata
Republika.id mencatat 'destination dupe' jadi salah satu tren utama perjalanan 2024. Konsep ini merujuk pada pencarian lokasi lokal yang menawarkan pengalaman visual dan atmosfer serupa dengan destinasi internasional terkenal, tapi dengan biaya jauh lebih terjangkau.
Ini kemenangan bagi dompet pelancong. Anda tak perlu keluar ratusan juta rupiah untuk foto yang terlihat seperti berlibur di Eropa. Cukup pilih lokasi tepat di dalam negeri, estetika itu bisa dikejar tanpa naik pesawat berjam-jam.
BBC dalam artikel tentang tujuh tren perjalanan 2025 memperkuat narasi ini. Mereka sebut wisatawan kini makin mencari 'keaslian' di balik kemewahan semu. Mereka ingin sensasi eksklusif, tapi tetap berpijak pada realitas ekonomi masuk akal.

Data di Balik Daya Tarik Estetika
Kompas.id soroti iklim pariwisata berkelanjutan makin baik, salah satu pendorongnya adalah pergeseran minat ke destinasi domestik yang lebih terkelola. Ketika orang memilih 'dupe' destinasi luar negeri, mereka secara tak langsung mendukung ekonomi kreatif lokal.
Pada 2024, sektor ini tumbuh karena wisatawan lebih cerdas. Mereka tidak lagi buta terhadap harga tiket pesawat dan akomodasi mahal. Mereka mencari nilai tukar terbaik untuk pengalaman yang mereka dapatkan.
Kini, kafe, galeri seni, dan ruang publik di kota-kota Indonesia berlomba mendesain ulang ruang mereka agar 'instagramable'. Ini bukan cuma soal desain interior, melainkan strategi bisnis yang paham bahwa mata wisatawan adalah mata kamera.

Dari Bangkok hingga Kafe Lokal
TripZilla Indonesia catat lonjakan minat ke tempat-tempat baru dan viral di Bangkok, Thailand. Kota ini jadi magnet karena menawarkan keragaman pengalaman, mulai dari wisata religi hingga kafe estetik dengan harga bersahabat bagi wisatawan Indonesia.
Namun, tren 'dupe' juga melahirkan persaingan ketat di dalam negeri. Banyak pelaku usaha di Indonesia mulai mengadopsi desain ala Bangkok atau Seoul. Mereka tahu wisatawan Indonesia sangat responsif terhadap visual yang kuat.
Hasilnya, Anda bisa menemukan 'surga' mirip spot viral luar negeri, hanya dengan perjalanan singkat naik kereta api atau mobil. Ini mengubah definisi liburan dari 'perpindahan geografis' menjadi 'penciptaan suasana'.

Melampaui Batas Harga
JPNN.com singgung liburan ke Eropa bukan lagi eksklusif untuk kalangan 'sultan'. Dengan tips hemat dari agen seperti Kintana Tour, banyak orang mulai mampu melakukan perjalanan internasional yang sebelumnya dianggap mustahil.
Pertemuan antara keterjangkauan harga dan tren 'destination dupe' menciptakan dinamika menarik. Sekarang, wisatawan punya dua pilihan: pergi ke aslinya karena kini lebih murah, atau tetap di rumah untuk mendapatkan pengalaman yang ditiru dengan baik.
Pilihan ini menunjukkan industri wisata Indonesia berada di titik sangat menguntungkan. Kita tidak lagi hanya jadi penonton, tapi juga pemain yang aktif mendefinisikan ulang apa itu 'liburan yang layak'.
Masa Depan Perjalanan yang Lebih Cerdas
Kita sedang masuk ke era di mana identitas destinasi tidak lagi ditentukan oleh namanya, melainkan oleh pengalaman yang ia tawarkan. Jika kafe di Bandung bisa berikan rasa syukur yang sama seperti kafe di London, maka bagi wisatawan, keduanya setara.
Survei ahli dari Kemenpar menegaskan pertumbuhan ekonomi kreatif akan terus jadi tulang punggung pariwisata. Ini sinyal positif bagi kreator konten, desainer, dan pelaku bisnis lokal di seluruh Indonesia.
Masa depan perjalanan bukan lagi soal siapa yang paling banyak bepergian, tapi siapa yang paling cerdas memilih pengalaman. Dan di sinilah, Indonesia dengan kekayaan budayanya, punya potensi tak terbatas untuk jadi pusat 'destination dupe' dunia.
Pertanyaan umum

Keep subscribing to Arif RahmanHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
