Barcelona menggunakan sistem rekomendasi berbasis AI seperti Netflix untuk mengarahkan wisatawan ke lokasi yang tidak padat, mengubah cara kota mengelola lonjakan turis.
Lupakan rekomendasi film berdasarkan riwayat tontonan. Di Barcelona, logika serupa kini diterapkan untuk memecahkan kebuntuan turis. Alih-alih membiarkan jutaan orang berdesakan di Sagrada Familia, kota ini mulai mengarahkan mereka ke titik-titik yang lebih sepi dengan cara yang cerdas.
Angka di belakang layar cukup membuat kepala pusing. Setiap tahun, sekitar 16 juta orang menginjakkan kaki di Barcelona, angka yang sepuluh kali lipat lebih besar dari jumlah penduduk lokalnya. Tekanan ini bukan sekadar statistik. Warga sudah muak, bahkan ada insiden di mana turis disemprotkan pistol air plastik di jalanan ramai, sebuah tanda bahwa kesabaran warga sudah habis.
Dewan pariwisata Barcelona merespons dengan mengubah wajah kampanyenya. Dulu dikenal sebagai 'Visit Barcelona', kini menjadi 'This is Barcelona'. Ini bukan sekadar ganti nama. Melalui platform baru ini, wisatawan tidak lagi sekadar diajak datang, tetapi dipandu ke tempat-tempat yang sesuai minat mereka, sekaligus mencegah kerumunan di satu titik yang sama.
Mengapa Pendekatan Lama Gagal
Selama dua dekade terakhir, percakapan tentang pariwisata di Barcelona cenderung gelap. Mateu Hernandez, CEO Barcelona Turisme, jujur bahwa fokus selama ini terlalu terobsesi pada dampak negatif. Padahal, industri ini juga menyumbang ekonomi lokal yang signifikan, sebuah fakta yang sering terabaikan di tengah narasi keluh kesah.
Pendekatan lama terasa reaktif dan kaku. Sejak 2015, pembangunan hotel baru di pusat kota sudah dilarang. Rencana penghapusan sekitar 10.000 izin akomodasi sewa jangka pendek juga sudah digulirkan untuk dieksekusi hingga 2028. Namun, langkah-langkah ini tidak cukup untuk menyelesaikan masalah kerumunan di titik-titik wisata ikonik yang tetap padat.
Hernandez menegaskan bahwa paradigma harus bergeser. Pariwisata tidak boleh lagi dianggap sebagai sumber masalah semata. Kota ini harus menonjolkan dampak positifnya sambil tetap mengelola alur wisatawan secara dinamis. Inilah yang mendasari lahirnya sistem rekomendasi berbasis data yang lebih fleksibel dan responsif.

Algoritma yang Memahami Minat Wisatawan
Platform 'This is Barcelona' bekerja dengan logika mirip Netflix. Jika Netflix mempelajari kebiasaan pengguna untuk menentukan film atau serial yang mungkin mereka sukai, platform Barcelona menggunakan informasi minat wisatawan untuk memberikan rekomendasi perjalanan yang lebih personal dan kontekstual.
Bedanya, sistem ini tidak hanya mempertimbangkan preferensi. Kondisi real-time juga menjadi faktor penentu. Jika sebuah destinasi sedang terlalu padat, algoritma akan mengarahkan pengguna ke alternatif lain yang sesuai profil minat mereka tetapi tidak sedang sesak. Ini adalah bentuk manajemen kerumunan yang sangat personal dan adaptif.
Pendekatan ini mengubah pengalaman wisata dari sekadar 'datang dan lihat' menjadi 'dipandu ke tempat yang tepat pada waktu yang tepat'. Wisatawan tetap mendapat pengalaman yang relevan, sementara kota terhindar dari kekacauan logistik dan sosial akibat konsentrasi massa di satu tempat yang terbatas.

Regulasi yang Mendukung
Sistem rekomendasi ini tidak berdiri sendiri. Ia didukung oleh serangkaian regulasi ketat yang dirancang untuk membatasi dampak pariwisata secara keseluruhan. Barcelona telah melarang pembangunan hotel baru di pusat kota sejak 2015, sebuah langkah tegas untuk mengendalikan kapasitas akomodasi yang terus melonjak.
Selain itu, pemerintah kota berencana menghapus sekitar 10.000 izin akomodasi sewa jangka pendek hingga tahun 2028. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi tekanan pada pasar perumahan dan mengubah fokus dari turis jangka pendek ke tamu yang lebih berkeberlanjutan bagi komunitas lokal.
Jumlah terminal kapal pesiar juga akan dikurangi dari tujuh menjadi lima pada 2029. Pengurangan ini akan secara signifikan menurunkan volume turis yang datang dan pergi dalam waktu singkat, yang sering kali menjadi sumber utama kerumunan di pelabuhan dan kawasan sekitarnya yang padat.

Pajak Wisata dan Dampak Ekonomi
Untuk membiayai pengelolaan pariwisata yang lebih baik, Barcelona telah menerapkan pajak wisatawan yang mencapai 12 euro, atau sekitar Rp 241 ribu, per malam. Angka ini ditargetkan naik menjadi 15 euro, atau sekitar Rp 300 ribu, pada tahun 2029. Peningkatan pajak ini mencerminkan komitmen kota untuk memastikan bahwa pariwisata memberikan kontribusi yang adil bagi masyarakat lokal.
Pendekatan Barcelona menunjukkan bahwa kota-kota besar dapat menggunakan teknologi untuk mengelola pariwisata secara lebih cerdas. Alih-alih hanya membatasi, mereka mengarahkan. Ini adalah model yang mungkin akan diikuti oleh destinasi wisata populer lainnya di seluruh dunia yang menghadapi tantangan serupa.
Dengan menggabungkan regulasi ketat, pajak yang progresif, dan teknologi rekomendasi berbasis AI, Barcelona sedang menulis ulang cara kota mengelola hubungan antara wisatawan dan penduduk lokal. Ini bukan sekadar solusi teknis, melainkan perubahan paradigma dalam industri pariwisata global yang lebih berkelanjutan.
Pertanyaan umum

Keep subscribing to Arif RahmanHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
