BRI Danareksa Sekuritas menaikkan target harga saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menjadi Rp 3.300 seiring membaiknya asumsi harga batu bara kokas global. Artikel ini membedah detail riset terbaru yang memuat estimasi volume produksi dan faktor fundamental yang menopang valuasi emiten tamb
Angka 230 dollar AS per ton kini menjadi sorotan utama di lantai bursa. Angka tersebut adalah asumsi baru harga batu bara kokas untuk tahun 2026 yang ditetapkan oleh tim riset BRI Danareksa Sekuritas. Kenaikan asumsi ini secara otomatis menjadi bahan bakar bagi valuasi saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang memang sangat bergantung pada komoditas tersebut. Di tengah volatilitas pasar yang masih terasa, perubahan angka fundamental sebesar ini langsung mengubah kalkulasi para analis dan investor yang memantau sektor energi.
Pada Kamis (8/10/2026), BRI Danareksa resmi mempublikasikan riset terbarunya yang merekomendasikan pembelian saham ADMR. Mereka menaikkan target harga menjadi Rp 3.300. Keputusan ini diambil setelah tim riset menilai bahwa tekanan pasokan di dua negara produsen utama, yakni Tiongkok dan Mongolia, akan membuat harga kokas tetap tinggi hingga akhir tahun. Bagi investor yang sudah memegang saham ini, angka tersebut menjadi penanda bahwa fundamental perusahaan masih solid meski ada hambatan logistik di dalam negeri.
Kenaikan target harga ini juga mencerminkan keyakinan analis terhadap kemampuan ADMR dalam menangkap momentum pasar. Dengan asumsi harga yang lebih agresif, proyeksi laba bersih perusahaan pun ikut meningkat secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa valuasi ADMR tidak hanya ditopang oleh volume produksi, tetapi juga oleh premium harga yang bisa dinikmati karena kelangkaan pasokan global. Investor kini melihat ADMR sebagai pilihan utama untuk eksposur komoditas energi dengan potensi kenaikan harga yang tinggi.
Peran Kritis Gangguan Pasokan Global
Fenomena kenaikan harga ini bukan sekadar fluktuasi musiman. BRI Danareksa menjelaskan bahwa gangguan pasokan di Tiongkok dan Mongolia menciptakan kelangkaan yang menjaga harga tetap berada di level premium. Kondisi ini menguntungkan produsen seperti ADMR yang memiliki kontrak jangka panjang. Riset tersebut memprediksi bahwa kuartal IV-2026 akan menjadi periode yang sangat kuat bagi harga kokas sebelum pasar mulai kembali normal pada tahun 2027 seiring pulihnya pasokan global.
Sebelumnya, asumsi harga untuk tahun 2026 hanya berada di kisaran 170 dollar AS per ton. Sekarang, angka itu naik menjadi 230 dollar AS per ton. Kenaikan serupa juga terjadi untuk tahun 2027 dan 2028, yang masing-masing dinaikkan menjadi 220 dan 200 dollar AS per ton. Perubahan asumsi yang signifikan ini menunjukkan bahwa para analis kini jauh lebih optimis terhadap daya beli di pasar baja global yang merupakan konsumen utama batu bara kokas. Optimisme ini menjadi landasan kokoh bagi target harga saham yang baru ditetapkan.
Dinamika pasar baja global menjadi pendorong utama permintaan batu bara kokas. Ketika industri baja di Asia dan Eropa kembali aktif, kebutuhan akan bahan baku berupa kokas pun melonjak tajam. ADMR berada di posisi strategis untuk memenuhi permintaan ini karena kualitas produknya yang sudah diakui secara internasional. Ketergantungan pasar global terhadap pasokan dari wilayah tertentu membuat harga menjadi sangat sensitif terhadap berita gangguan produksi. Situasi ini memberikan keunggulan kompetitif bagi ADMR untuk mempertahankan margin keuntungan yang tebal di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Hambatan Logistik Sungai Barito
Meskipun harga global tinggi, ADMR menghadapi tantangan nyata di lapangan. BRI Danareksa memperkirakan penjualan pada kuartal III-2026 hanya akan mencapai 500.000 hingga 700.000 ton. Angka ini jauh lebih rendah dari rata-rata kuartal lainnya karena adanya kendala kondisi air Sungai Barito yang menjadi jalur utama distribusi. Kendala geografis ini sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa target penjualan tahunan perusahaan tidak akan tercapai. Namun, para analis meyakini bahwa volume yang tertunda akan terdorong secara signifikan pada kuartal IV.
Riset tersebut mencatat bahwa sebagian besar penjualan pada periode kuartal III akan berasal dari persediaan di area stockpile dan fasilitas Indonesia Bulk Terminal (IBT). Ini adalah strategi penyangga yang efektif untuk menjaga arus kas tetap berjalan. Fenomena catch-up penjualan diperkirakan akan terjadi di kuartal terakhir tahun ini karena volume batu bara ADMR sebenarnya sudah terkontrak sejak lama. Artinya, masalahnya bukan pada permintaan, melainkan pada kemampuan logistik untuk mengangkut barang ke pelabuhan. Dengan pulihnya kondisi sungai, potensi lonjakan volume penjualan sangat besar.
Infrastruktur logistik di Kalimantan merupakan kunci vital bagi kelancaran distribusi batu bara. Sungai Barito berfungsi sebagai arteri utama yang menghubungkan tambang dengan pelabuhan ekspor. Ketika debit air menurun, kapasitas angkut kapal menjadi terbatas, sehingga memicu penumpukan muatan di darat. ADMR telah menyiapkan mitigasi risiko dengan memanfaatkan terminal darat untuk menyimpan stok sementara. Pendekatan ini memastikan bahwa tidak ada kehilangan pendapatan akibat keterlambatan pengiriman. Begitu musim hujan tiba dan level air naik kembali, distribusi akan kembali normal dan volume ekspor akan melonjak drastis.

Realisasi Kinerja Anak Usaha
Kinerja operasional anak usaha ADMR, yaitu PT Saptaindra Sejati (SIS), menjadi indikator penting bagi estimasi tahun 2026. BRI Danareksa memproyeksikan SIS akan mencatat pengupasan lapisan penutup atau overburden removal sebesar 204 juta bank cubic meter (bcm) sepanjang tahun ini. Angka produksi batu bara SIS juga diprediksi mencapai 68 juta ton. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan di hulu berjalan dengan intensitas tinggi, yang pada gilirannya akan mendukung ketersediaan stok untuk penjualan di hilir.
Realisasi di semester I-2026 menunjukkan pencapaian yang cukup baik. SIS berhasil merealisasikan 87,7 juta bcm untuk pengupasan dan 32,3 juta ton untuk produksi batu bara. Jika dibandingkan dengan estimasi penuh tahun 2026, realisasi tersebut sudah mencapai 43 hingga 47 persen. Ini adalah progress yang sehat dan menunjukkan bahwa target tahunan masih sangat mungkin dicapai. Data operasional yang solid ini memberikan keyakinan tambahan bagi investor bahwa target harga saham yang dinaikkan memiliki landasan fundamental yang kuat.
Efisiensi operasional SIS juga menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing ADMR. Meskipun volume produksi tinggi, biaya produksi per ton tetap terkendali berkat penggunaan teknologi pertambangan yang canggih. Penggunaan alat berat modern dan manajemen tambang yang ketat memungkinkan perusahaan untuk mengekstraksi lebih banyak batu bara dengan biaya yang lebih rendah. Hal ini meningkatkan margin keuntungan bersih yang pada akhirnya akan mengalir ke pemegang saham. Kinerja operasional yang konsisten ini membuktikan bahwa ADMR memiliki kemampuan eksekusi yang andal di tengah tantangan industri tambang.

Proyeksi Volume Penjualan Tahunan
BRI Danareksa mempertahankan estimasi penjualan ADMR untuk tahun 2026 sebesar 6 juta ton. Angka ini sedikit di bawah target awal manajemen perusahaan yang menetapkan target 6,3 juta ton. Meskipun ada penurunan target, para analis tetap percaya diri karena melihat pola historis di mana kuartal IV sering kali menjadi penentu utama pencapaian target tahunan. Kontrak yang sudah ada menjadi jaminan bahwa volume tersebut akan terserap oleh pasar.
Keputusan untuk mempertahankan estimasi di level 6 juta ton menunjukkan kehati-hatian dari sisi analis. Mereka memperhitungkan segala risiko operasional yang mungkin terjadi di paruh kedua tahun. Bagi investor, target harga Rp 3.300 ini merupakan cerminan dari keseimbangan antara potensi harga global yang tinggi dan risiko volume yang ada. Riset ini menegaskan bahwa meski ada hambatan logistik, potensi kenaikan harga komoditas masih menjadi katalis utama yang mendorong valuasi saham ADMR ke level yang lebih tinggi.
Keamanan pendapatan ADMR juga ditopang oleh struktur kontrak yang fleksibel namun tetap menguntungkan. Sebagian besar penjualan dilakukan berdasarkan harga pasar global yang disesuaikan dengan kualitas batu bara. Ini memastikan bahwa perusahaan selalu mendapatkan harga terbaik yang tersedia di pasar. Selain itu, diversifikasi pasar ekspor juga mengurangi risiko ketergantungan pada satu negara saja. Dengan kombinasi harga yang tinggi dan volume yang terjamin, ADMR memiliki posisi fundamental yang sangat kuat untuk menghadapi tahun 2026 dan seterusnya. Investor disarankan untuk memperhatikan potensi kenaikan harga saham yang signifikan seiring dengan perbaikan kondisi logistik.
Pertanyaan umum

Keep subscribing to Budi SantosoHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
