Mulai 2026 dua pulau kecil di seberang Bali memberlakukan tiket masuk daring dan tarif baru. Di baliknya ada manta yang memesona, kode etik penyelaman, dan beban wisata yang harus dijaga dengan bijak.
Buat saya yang lebih sering naik feri daripada naik lift, tak ada yang lebih menyenangkan daripada menyeberang ke pulau kecil dan merasa waktu melambat. Dua pulau di seberang Bali, Nusa Penida dan Nusa Lembongan, memberi rasa itu, tapi tahun 2026 membawa sejumlah aturan baru yang perlu diketahui sebelum berangkat.
Dua pulau kecil di seberang Bali
Nusa Penida dan Nusa Lembongan terletak di tenggara Pulau Bali dan dapat dicapai dengan perahu cepat dalam waktu singkat. Dulu keduanya hanya tempat singgah para penyelam, tetapi kini berubah menjadi salah satu tujuan wisata yang tumbuh paling cepat, dengan tebing, teluk biru, dan laut yang jernih memikat pengunjung dari seluruh dunia.
Aturan baru mulai 2026
Menurut pemberitaan, mulai April 2026 kedua pulau memberlakukan tarif masuk resmi sebesar 25.000 rupiah untuk pengunjung dewasa dan 15.000 rupiah untuk anak berusia empat hingga tiga belas tahun. Kebijakan ini menandai upaya pengelolaan wisata yang lebih tertata di kawasan yang selama ini berkembang begitu cepat.
Kenapa tiket daring diberlakukan
Selain tarif, sejak 21 April 2026 sistem tiket masuk diwajibkan dilakukan secara daring. Dengan pendaftaran elektronik, arus pengunjung bisa dipantau dan dikelola lebih baik, sehingga jumlah orang yang datang tidak lagi sepenuhnya di luar kendali. Bagi wisatawan, ini berarti satu langkah tambahan yang sebaiknya disiapkan sebelum menyeberang.
Sang manta, bintang bawah laut
Daya tarik terbesar perairan ini adalah ikan pari manta. Nusa Penida dikenal sebagai tempat paling andal untuk menjumpainya, dengan tingkat keberhasilan sekitar sembilan puluh lima persen di titik yang dijuluki Manta Point pada hampir setiap musim. Manta karang di sini bisa memiliki rentang sirip hingga empat sampai lima meter.
Kode etik berenang bersama manta
Berenang dekat makhluk sebesar itu bukan tanpa aturan. Operator selam setempat, yang dikoordinasikan lewat kelompok seperti Coral Triangle Center dan Lembongan Marine Association, mengikuti kode etik yang jelas: menjaga jarak, tidak menyentuh, tidak mengejar, serta membatasi ukuran rombongan di titik tempat manta membersihkan diri.
Sertifikasi hijau untuk penyelaman
Banyak operator kini juga mengejar sertifikasi Green Fins, sebuah skema dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk usaha selam dan snorkeling yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Sertifikasi semacam ini menjadi tanda bahwa sebuah usaha berusaha menekan kerusakan terumbu dan biota laut selama kegiatan wisata berlangsung.
Laut yang harus dijaga

Semua pesona ini pada akhirnya bergantung pada satu hal: laut yang sehat. Terumbu karang, padang lamun, dan air yang jernih adalah modal utama pariwisata di sini, sekaligus yang paling rentan. Ketika terlalu banyak kaki, perahu, dan sampah menekan ekosistem, keindahan yang menjadi alasan orang datang justru bisa perlahan menghilang.
Beban di balik pesona
Pertumbuhan wisata memang membawa penghasilan dan peluang baru bagi warga, tetapi juga menimbulkan beban. Jalan terasa semakin padat, pengelolaan sampah kewalahan, dan tekanan pada ekosistem laut dari penyelaman, snorkeling, serta lalu lintas perahu terus meningkat. Sampah plastik pun masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi.
Air tawar yang terbatas
Salah satu tantangan yang jarang terlihat wisatawan adalah keterbatasan air tawar. Sebagai pulau kecil, Nusa Penida dan Nusa Lembongan tidak memiliki pasokan air yang melimpah, sementara jumlah pengunjung terus bertambah. Setiap penginapan, restoran, dan kolam renang menambah tekanan pada sumber daya yang sejak awal memang tidak banyak.
Perahu, jukung, dan warga lokal
Di balik brosur wisata, ada warga yang hidup dari laut ini jauh sebelum turis datang. Perahu jukung berwarna cerah yang berjajar di tepi pasir bukan sekadar latar foto, melainkan alat kerja para nelayan dan pengantar tamu. Masa depan pulau ini akan ditentukan oleh apakah mereka tetap mendapat tempat di tengah derasnya kunjungan.
Wisata yang lebih pelan
Justru di sinilah cara bepergian yang lebih pelan menjadi masuk akal. Menginap lebih lama, memilih operator yang bertanggung jawab, mengurangi sampah, dan menghormati aturan setempat adalah hal kecil yang berdampak besar. Pulau kecil paling menikmati tamu yang datang untuk merasakan, bukan sekadar mengejar satu foto lalu pergi.
Menjaga agar tetap indah
Aturan tiket, kode etik manta, dan sertifikasi hijau pada akhirnya bicara tentang hal yang sama: menjaga agar keindahan ini bertahan. Bagi saya, itulah pelajaran terbaik dari menyeberang ke pulau kecil, bahwa tempat yang indah hanya akan tetap indah jika kita cukup peduli untuk memperlakukannya dengan lebih baik.
