Sepanjang September 2026, puluhan festival budaya dan pariwisata digelar di berbagai kota Indonesia, dari Semarang hingga Solo dan Cirebon, sejalan dengan program Event by Indonesia untuk mendorong pariwisata daerah.
Bagi para pelancong, September 2026 mungkin menjadi salah satu bulan paling ramai dalam kalender wisata Indonesia. Dari kota-kota tua bersejarah hingga alun-alun daerah, berbagai festival budaya digelar hampir setiap pekan, menawarkan alasan baru bagi wisatawan untuk menjelajahi negeri sendiri sekaligus mengenal kekayaan tradisi Nusantara lebih dekat.
Event by Indonesia dan fokus pariwisata 2026
Ramainya agenda ini tidak lepas dari arah kebijakan pemerintah. Kementerian Pariwisata menjadikan program bertajuk Event by Indonesia sebagai salah satu dari lima program unggulan sepanjang 2026, di samping desa wisata, pariwisata berkualitas, peningkatan keselamatan berwisata, serta konsep yang disebut Tourism 5.0 untuk mendorong pertumbuhan yang lebih merata.
Melalui program tersebut, pemerintah berharap gelaran acara budaya dan hiburan tidak hanya menghibur, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah. Festival dinilai mampu menarik wisatawan untuk tinggal lebih lama, membelanjakan uang di usaha kecil lokal, dan menyebarkan manfaat pariwisata secara lebih merata ke luar destinasi utama yang selama ini menjadi tumpuan.
Jawa Tengah jadi pusat keramaian

Salah satu wilayah yang paling semarak bulan ini adalah Jawa Tengah. Di Semarang, Festival Kota Lama berlangsung cukup panjang, yakni dari 4 hingga 20 September 2026, menyulap kawasan bangunan tua peninggalan masa kolonial menjadi ruang pameran, pertunjukan, dan kuliner yang seolah hidup kembali terutama saat malam hari tiba.
Kota Solo atau Surakarta juga tidak mau kalah. Festival Payung Indonesia digelar pada 4 hingga 6 September di Taman Balekambang, disusul Solo International Performing Arts atau SIPA pada 10 hingga 12 September di Pamedan Mangkunegaran. Tidak jauh dari sana, Magelang Ethno Carnival turut meramaikan suasana pada 6 September dengan parade kostum yang memukau.
Dari Cirebon hingga Sumatra Barat
Semarak festival juga terasa di luar Jawa Tengah. Di Cirebon, Festival Budaya Cai Diraga berlangsung pada 4 hingga 6 September di Alun-alun Ciledug, mengangkat tradisi dan kearifan lokal masyarakat setempat dalam balutan pertunjukan yang terbuka untuk umum sekaligus ramah bagi keluarga yang datang bersama anak-anak.
Sementara itu, di Sumatra Barat, Sawahlunto International Songket Silungkang Carnival hadir pada tanggal yang sama, merayakan warisan kain songket yang menjadi kebanggaan daerah. Di Bali, Taman Ayun Barong Festival di Badung ikut menambah daftar panjang perayaan budaya pada awal September yang begitu padat ini.
Kuliner juga punya panggung
Tidak hanya seni pertunjukan, dunia kuliner pun mendapat sorotan tersendiri. Di Jakarta, Jakarta Dessert Week berlangsung cukup lama, dari 1 hingga 13 September di fX Sudirman, menjadi semacam surga bagi para pencinta hidangan penutup dan camilan manis dari berbagai kreator lokal maupun mancanegara yang ikut ambil bagian.
Bagi penikmat kopi, Jogja Coffee Week yang digelar pada 4 hingga 6 September di Jogja Expo Center, Bantul, menawarkan pengalaman menyeruput aneka kopi Nusantara. Kombinasi antara festival budaya dan acara kuliner ini memperlihatkan betapa luas spektrum wisata yang bisa dinikmati hanya dalam kurun satu bulan saja.
Menjelang akhir bulan
Memasuki paruh kedua September, keramaian belum juga surut. Di Kalimantan Timur, Festival Budaya Erau Adat Kutai berlangsung pada 21 hingga 29 September di Tenggarong, menghadirkan ritual adat yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu perayaan budaya tertua di kawasan tersebut hingga kini.
Di kota-kota besar, panggung hiburan modern juga bergema. Pestapora hadir di Jakarta pada 25 hingga 27 September, sementara Balikpapan Fest menyapa penonton pada 25 hingga 28 September. Rangkaian panjang ini seakan ditutup dengan Seren Taun Kasepuhan Cisungsang di Banten yang berlangsung hingga awal Oktober mendatang.
Kenapa festival penting bagi wisata daerah
Deretan acara ini memperlihatkan pergeseran menarik dalam pola berwisata. Alih-alih hanya mengejar destinasi populer, semakin banyak wisatawan yang merancang perjalanan berdasarkan agenda festival, lalu mengunjungi kota-kota yang mungkin sebelumnya jarang sekali masuk dalam daftar liburan mereka selama ini.
Pada akhirnya, festival-festival seperti ini bukan sekadar hiburan sesaat. Ia menjadi jembatan antara tradisi dan wisatawan, memberi panggung bagi para seniman serta pelaku usaha lokal, dan menegaskan bahwa kekuatan pariwisata Indonesia justru terletak pada keberagaman budaya yang tersebar di seluruh penjuru negeri.
Liputan yang bagus soal pariwisata Indonesia.
Konteks yang baik seputar pariwisata Indonesia.
Poin bagus.