avalw
NATURE · ID

Hutan Bakau Nusantara: Benteng Hijau Terbesar di Dunia yang Diam-diam Menyelamatkan Pesisir Kita

Idris Abadi Idris Abadi idrisabadi.avalw.com · 675 reads Respect0 Save Share Read only
READS2live count PUBLISHED17 Sept2026 READING TIME3 min695 words LANGUAGEIndonesian
AI CITATIONS? Gathering data

Indonesia menyimpan hutan bakau terluas di dunia, sekitar 3,1 juta hektare atau seperlima dari total dunia. Sebuah benteng hijau yang menyimpan karbon biru, melindungi pesisir, dan kini tengah dipulihkan setelah bertahun-tahun terancam tambak dan pembangunan.

Setiap kali feri yang saya tumpangi merapat ke pelabuhan kecil di pesisir, ada satu pemandangan yang hampir selalu terlewat oleh mata: barisan pohon berlumpur yang tumbuh justru di batas antara darat dan laut. Orang menyebutnya hutan bakau, dan selama bertahun-tahun saya pun menganggapnya sekadar semak kumuh di tepi air. Ternyata saya keliru besar.

Benteng hijau yang sering kita lewati

Bakau bukan hutan biasa. Ia tumbuh dengan akar yang mencuat dari lumpur seperti kaki-kaki penyangga, bertahan di air asin yang justru akan membunuh hampir semua tumbuhan lain. Di sanalah letak keajaibannya: pohon-pohon ini seolah sengaja memilih tempat paling sulit, tempat yang tak diinginkan siapa pun, lalu mengubahnya menjadi rumah bagi ribuan makhluk.

Saya pernah menyusuri jembatan kayu yang membelah rimbunan bakau di sebuah taman pesisir. Udara terasa lembap, tanah berlumpur seakan mengisap setiap langkah, dan di bawah papan kayu itu ikan-ikan kecil berkelebat di antara akar. Baru saat itu saya benar-benar paham bahwa tempat yang tampak sepi ini sesungguhnya sibuk luar biasa.

Rumah bagi banyak kehidupan

Akar bakau yang berjejalin menciptakan labirin aman bagi anak-anak ikan, udang, dan kepiting untuk tumbuh sebelum berani keluar ke laut lepas. Nelayan tradisional tahu betul soal ini, karena hasil tangkapan mereka sangat bergantung pada kesehatan hutan bakau yang mengelilingi kampung-kampung pesisir tempat mereka mencari nafkah setiap hari.

Di atas air, kanopinya menjadi tempat bertengger burung-burung, sementara di lumpurnya hidup kepiting bakau, siput, dan aneka makhluk kecil yang menjadi mata rantai penting. Menghancurkan satu petak bakau berarti merobek jaring kehidupan yang jauh lebih luas daripada yang bisa kita bayangkan hanya dari atas geladak perahu.

Juara dunia yang jarang disebut

Inilah yang membuat saya bangga sekaligus terkejut ketika membaca datanya. Indonesia ternyata menyimpan hutan bakau terluas di seluruh dunia, dengan hamparan sekitar 3,1 juta hektare. Angka itu setara dengan lebih dari seperlima, kira-kira dua puluh dua persen, dari seluruh hutan bakau yang masih tersisa di muka bumi.

Keanekaragamannya pun luar biasa. Perairan Nusantara menampung lebih dari dua ratus jenis tumbuhan bakau beserta kerabatnya, sebuah kekayaan hayati yang sulit ditandingi negara mana pun. Dari Sumatra sampai Papua, garis pantai kita seakan dijahit oleh sabuk hijau raksasa yang selama ini bekerja keras tanpa pernah banyak dipuji.

Penyimpan karbon biru

Sebatang bibit bakau berjuang tumbuh di hamparan lumpur pesisir saat air surut. Dari benih rapuh seperti inilah hutan raksasa Nusantara tumbuh, dan dari sinilah pula banyak upaya restorasi dimulai.
Sebatang bibit bakau berjuang tumbuh di hamparan lumpur pesisir saat air surut. Dari benih rapuh seperti inilah hutan raksasa Nusantara tumbuh, dan dari sinilah pula banyak upaya restorasi dimulai.

Ada satu rahasia lagi yang membuat bakau begitu berharga di tengah krisis iklim. Lumpur di bawah akarnya menyimpan karbon dalam jumlah luar biasa besar, jenis simpanan yang oleh para ilmuwan disebut karbon biru. Per satu hektare, hutan bakau bisa mengunci karbon tiga sampai lima kali lebih banyak daripada hutan daratan biasa.

Potensinya bagi Indonesia benar-benar besar. Berbagai kajian menaksir nilai proyek karbon biru dari bakau di negeri ini bisa mencapai ratusan juta dolar, dengan kemampuan menyerap sekitar sebelas juta ton karbon dioksida setiap tahun. Membiarkan bakau tetap berdiri, ternyata, jauh lebih menguntungkan ketimbang menebang lalu menguruknya.

Luka di garis pantai

Sayangnya, kabar baik itu datang bersama luka yang cukup dalam. Selama beberapa dekade, hamparan bakau di banyak tempat dibabat untuk dijadikan tambak udang dan ikan, dikorbankan demi jalan, pelabuhan, serta permukiman yang terus merangsek ke arah laut. Sekali lumpur itu dibuka, karbon yang tersimpan selama ratusan tahun ikut terlepas begitu saja ke udara.

Akibatnya bukan sekadar soal iklim yang jauh dan abstrak. Ketika sabuk bakau menipis, gelombang dan badai langsung menghantam kampung tanpa perisai, abrasi menggerus tanah, dan air laut menyusup ke sumur serta sawah warga. Banyak desa pesisir kini belajar dengan cara yang pahit bahwa mereka baru merindukan bakau justru setelah kehilangannya.

Menanam kembali harapan

Kabar melegakannya, negeri ini tidak tinggal diam menyaksikan semua itu. Pemerintah membentuk badan khusus untuk memulihkan lahan gambut dan bakau, lalu meluncurkan program restorasi besar-besaran di sepanjang pantai yang rusak. Menanam bakau memang terdengar sederhana, tetapi mengembalikan hutan yang utuh butuh kesabaran bertahun-tahun dan keterlibatan sungguh-sungguh dari warga setempat.

Hasilnya perlahan mulai terlihat di lapangan. Sampai penghujung 2025, puluhan ribu hektare bakau, sekitar sembilan puluh satu ribu hektare, dilaporkan telah direhabilitasi, dan pada 2026 ditargetkan belasan ribu hektare lagi ditanami kembali. Angka itu memang masih jauh dari cukup, tetapi setidaknya arah jarumnya sudah mulai berbalik ke tempat yang benar.

Kenapa saya jadi peduli

Sekarang, setiap kali feri saya melewati garis pantai berlumpur itu, saya tidak lagi memalingkan wajah begitu saja. Saya justru mencari-cari barisan bakau tadi, karena tahu di balik penampilannya yang sederhana tersimpan benteng yang menjaga kampung, ikan, dan iklim kita sekaligus. Mungkin perjalanan terbaik memang yang diam-diam mengajari kita menghargai hal-hal yang selama ini dianggap biasa.

0 responses
No responses yet. Be the first to add one.
Idris Abadi
Follow this desk
Idris Abadi
Create a free account to follow Idris Abadi. New stories land in your feed, and you can save any of them to your own reading lists.
Your library & lists →
Idris Abadi
WRITTEN BY THE AUTHOR
Idris Abadi 2026-09-17 · 3 min read · 2 reads
View profile →
VERIFY THIS STORY
ASK AI
Idris Abadi Keep following Idris AbadiHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Up next
More
Statistics Search Become a creator Alliances About Terms Privacy