avalw
⚲
SPORTS · ID

Lima Emas Asian Games 2026: Titik Awal atau Sekadar Target?

Bayu Anggara Bayu Anggara bayuanggara.avalw.com · 7 reads Respect0 Save Share Read only
READS0live count PUBLISHED8 Oct2026 READING TIME4 min810 words LANGUAGEIndonesian
AI CITATIONS? Gathering data

Kontingen Indonesia pulang dengan lima medali emas dari Aichi-Nagoya 2026, melampaui target, namun Raja Sapta Oktohari menantang semua pihak untuk tidak berhenti di angka tersebut.

ALSO ON THE CREATOR SITERead this on bayuanggara.avalw.comOpen

Angka lima emas di papan skor mungkin terlihat biasa saja bagi sebagian orang, tetapi bagi kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, ini adalah bukti nyata. Target empat emas yang ditetapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga berhasil ditembus, meskipun peringkat ke-16 klasemen akhir dan total 39 medali lainnya masih menyisakan pertanyaan. Di balik statistik tersebut, tersimpan cerita tentang ketatnya persaingan di level elite Asia dan kerja keras atlet-atlet kita yang harus bertarung keras untuk bertahan.

Raja Sapta Oktohari, Ketua Umum NOC Indonesia, tidak ingin kita terjebak dalam perayaan yang dangkal. Baginya, lima emas ini bukan garis finis, melainkan titik awal untuk evaluasi sistemik yang lebih dalam. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu berprestasi, melainkan bagaimana kita memperluas basis cabang olahraga yang bisa menghasilkan medali di masa depan. Ini adalah tantangan besar yang membutuhkan perubahan cara pandang, bukan sekadar penambahan anggaran.

Kejutan di Lintasan Panjat Tebing

Salah satu momen paling dramatis di ajang tersebut datang dari cabang olahraga panjat tebing. Desak Made Rita Kusuma Dewi membuktikan mengapa ia menjadi sorotan utama dengan meraih medali emas pada nomor speed putri. Persaingan di final yang berlangsung di Portmesse Nagoya Exhibition Hall pada 30 September 2026 itu benar-benar menegangkan, di mana Desak Made harus berlomba melawan waktu dan tekanan.

Kemenangan ini sangat tipis. Desak Made mencatatkan waktu 6,062 detik, hanya unggul 0,002 detik dari wakil China, Deng Lijuan, yang finis dengan catatan 6,064 detik. Selisih dua per seribu detik itu mungkin terdengar kecil, tetapi dalam dunia panjat tebing, itu adalah jurang antara menjadi juara dan harus puas dengan perak. Lebih membanggakan lagi, Desak Made juga berhasil memperbarui rekor Asian Games dan rekor Asia yang sebelumnya ia pegang sendiri dengan waktu 6,07 detik di Kejuaraan Asia Meishan pada April 2026.

Medali perunggu jatuh ke tangan Jimin Jeong dari Korea Selatan dengan waktu 6,18 detik. Kemenangan Desak Made ini bukan hanya soal medali, tetapi juga tentang konsistensi dan kemampuan menjaga performa di bawah tekanan internasional. Ia menunjukkan bahwa atlet Indonesia mampu bersaing di level tertinggi, bahkan dengan selisih waktu yang nyaris tidak terukur oleh mata manusia biasa.

Nurisa Dian Ashrifah menunjukkan ketenangannya di final panahan.
Nurisa Dian Ashrifah menunjukkan ketenangannya di final panahan.

Panahan dan Renang: Dua Cabang, Dua Cerita

Medali emas lainnya datang dari cabang panahan, di mana Nurisa Dian Ashrifah, pemanah muda berusia 20 tahun asal Semarang, tampil luar biasa. Pada nomor compound, ia berhasil mengalahkan wakil Filipina, Amaya Amparo Cojuangco, dengan skor ketat 139-137. Final tersebut ditentukan oleh ketenangan dan akurasi, dengan anak panah pamungkas Nurisa yang tepat mengenai angka 10 menjadi pembeda kemenangan.

Di lintasan renang, dua atlet penerima beasiswa student athlete dari Bakti BCA, Liquor Harrison Andoko dan Samuel Maxson Septionus, juga membuat sejarah. Liquor memecahkan rekor nasional pada nomor 200 meter gaya bebas putra dengan waktu 1:49.89, mengungguli rekor sebelumnya milik Joe Aditya Kurniawan. Keduanya juga berkontribusi pada rekor nasional estafet 4x100 meter gaya bebas putra dengan waktu 3:20.84 di babak final, meskipun belum membawa pulang medali.

Liquor Harrison Andoko mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini, menyebut rekor tersebut sebagai motivasi besar untuk terus berkembang. Sementara itu, Samuel Maxson Septionus, yang juga turun di beberapa nomor lainnya, menyatakan kebanggaannya bisa berjuang bersama tim membawa nama Indonesia. Dukungan dari Bakti BCA yang memungkinkan mereka kuliah sekaligus berkarier sebagai atlet menjadi faktor penting di balik performa mereka.

Liquor Harrison Andoko memecahkan rekor nasional di kolam renang Asian Games 2026.
Liquor Harrison Andoko memecahkan rekor nasional di kolam renang Asian Games 2026.

Desakan Oktohari: Ubah Sistem, Bukan Sekadar Rayakan

Raja Sapta Oktohari menegaskan bahwa lima emas yang diraih seluruhnya berasal dari empat cabang olahraga, yaitu bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Fakta ini, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi. Kita perlu membedah secara mendalam apa yang membuat keempat cabang tersebut berhasil, mulai dari sistem pembinaan, scouting, kualitas pelatih, hingga dukungan sport science.

Oktohari menekankan bahwa Indonesia tidak kekurangan talenta. Dengan populasi besar, ribuan sekolah, dan keragaman potensi fisik, persoalan utamanya adalah bagaimana talenta tersebut ditemukan dan dikembangkan secara tepat. Ia mendorong penguatan cross-sport talent dan scouting berbasis data. Jika seorang atlet diuji dengan pendekatan sport science dan ternyata lebih cocok di cabang lain, ia tidak takut untuk memindahkannya. Kepentingan nasional harus lebih besar daripada ego sektoral.

Ia juga mengingatkan bahwa membangun atlet elite membutuhkan waktu, pelatih berkualitas, kompetisi yang kompetitif, serta dukungan anggaran yang berkelanjutan. Tidak semua cabang olahraga bisa mendapatkan sumber daya yang sama, sehingga diperlukan prioritas dalam pembinaan prestasi. Lima emas ini adalah modal, tetapi untuk menuju sepuluh emas atau lebih, sistem harus berubah.

Para atlet Indonesia menerima medali emas di podium Asian Games 2026.
Para atlet Indonesia menerima medali emas di podium Asian Games 2026.

Modal Menuju Los Angeles 2028

Pencapaian di Asian Games 2026 ini juga menjadi modal penting dalam persiapan menghadapi Olimpiade Los Angeles 2028. Jumlah keseluruhan medali Indonesia meningkat dibandingkan Asian Games Hangzhou 2022 yang menghasilkan 36 medali, meskipun tiga nomor penyumbang emas sebelumnya tidak lagi dipertandingkan. Ini menunjukkan bahwa ada peningkatan kualitas di cabang-cabang olahraga yang masih aktif.

Namun, jalur menuju Los Angeles 2028 tidak akan mudah. Para atlet seperti Desak Made dan Nurisa Dian Ashrifah harus terus menjaga performa dan meningkatkan level kompetisi mereka. Dukungan dari pemerintah, federasi, dan sponsor seperti Bakti BCA akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa momentum dari Asian Games 2026 ini tidak hilang begitu saja. Lima emas ini adalah awal, bukan akhir. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap melakukan perubahan sistemik yang dibutuhkan untuk bersaing di level tertinggi dunia?

Pertanyaan umum

Berapa selisih waktu kemenangan Desak Made Rita Kusuma Dewi di final panjat tebing Asian Games 2026?

Desak Made Rita Kusuma Dewi meraih emas dengan keunggulan tipis 0,002 detik atas wakil China, Deng Lijuan. Waktu yang dicatatkan Desak Made adalah 6,062 detik, sementara Deng Lijuan finis dengan catatan 6,064 detik di final yang berlangsung pada 30 September 2026.

Siapa pemanah Indonesia yang merebut medali emas nomor compound dan bagaimana skor finalnya?

Nurisa Dian Ashrifah, pemanah berusia 20 tahun asal Semarang, berhasil meraih medali emas pada nomor compound. Ia mengalahkan wakil Filipina, Amaya Amparo Cojuangco, dengan skor ketat 139-137 setelah anak panah pamungkasnya tepat mengenai angka 10.

Cabang olahraga apa saja yang menyumbang lima medali emas bagi kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026?

Kelima medali emas tersebut berasal dari empat cabang olahraga, yaitu bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Fakta ini menjadi bahan evaluasi utama bagi NOC Indonesia untuk memperluas basis cabang olahraga yang mampu berprestasi di masa depan.

Rekor nasional apa yang berhasil dipecahkan oleh Liquor Harrison Andoko pada ajang Asian Games 2026?

Liquor Harrison Andoko memecahkan rekor nasional pada nomor 200 meter gaya bebas putra dengan waktu 1:49.89. Pencapaian ini mengungguli rekor sebelumnya yang dimiliki oleh Joe Aditya Kurniawan.

Apa pandangan Raja Sapta Oktohari mengenai target lima emas yang dicapai Indonesia di Asian Games 2026?

Raja Sapta Oktohari menegaskan bahwa lima emas tersebut bukanlah garis finis, melainkan titik awal untuk evaluasi sistemik yang lebih dalam. Ia menekankan pentingnya perubahan cara pandang dan penguatan sistem pembinaan, bukan sekadar perayaan atau penambahan anggaran.

Bagaimana perbandingan jumlah medali Indonesia di Asian Games 2026 dengan edisi Hangzhou 2022?

Jumlah keseluruhan medali Indonesia di Asian Games 2026 meningkat dibandingkan edisi Hangzhou 2022 yang menghasilkan 36 medali. Peningkatan ini terjadi meskipun tiga nomor penyumbang emas pada edisi sebelumnya tidak lagi dipertandingkan di Aichi-Nagoya.

0 responses
No responses yet. Be the first to add one.
Bayu Anggara
Follow this desk
Bayu Anggara
Create a free account to follow Bayu Anggara. New stories land in your feed, and you can save any of them to your own reading lists.
Your library & lists →
Bayu Anggara
WRITTEN BY THE AUTHOR
Bayu Anggara 2026-10-08 · 4 min read · 0 reads
View profile →
VERIFY THIS STORY
ASK AI
Bayu Anggara Keep subscribing to Bayu AnggaraHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Up next
More
Statistics Search Become a creator Alliances About Terms Privacy